Cerpen

Anak Perempuan Ayah

Cinta seorang ayah mungkin tidak seperti ibu yang terang-terangan, menasihati dengan suara lembut, dan merindukan dengan luruhan air mata. Cinta ayah seringnya tidak pernah tampak. Kekhawatiran kepada anak perempuannya yang pulang terlambat seringkali terdengar seperti omelan dan amarah. Ayah seringkali marah karena hal-hal sepele. Bukan karena ayah pemarah apalagi jahat terhadap anaknya. Tapi itu adalah bentuk cinta ayah. Ayah mungkin ingin berlaku selembut ibu, tapi seringnya ia tidak tahu bagaimana caranya. Lelaki memang begitu.

Ayah sangat jarang berkata lembut, tapi bukan berarti ia orang yang kasar. Ayah bisa jadi demikian karena ia sudah terlalu lelah bekerja diluar rumah siang dan malam demi anak-anaknya. sehingga ketika tiba dirumah, energi ayah sudah terkuras.

Ayah tidak terlalu takut melepas anak lelakinya pergi jauh dari rumah sehingga bisa dengan mudah memberikan izin. Tapi untuk anak perempuan, ayah sangat selektif. Mungkin dari sepuluh permintaan izin anak perempuannya, hanya dua yang dikabulkan dan itupun bersyarat. Terdengar jahat? Iya. Semua anak perempuan pasti beranggapan demikian. Tapi sesungguhnya itu dilakukannya demi menjaga anak perempuannya. Ayah terlalu takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada anaknya. Anak perempuan itu ibarat cermin yang rapuh. Sekali pecah, tidak akan bisa utuh kembali. Sekalipun sudah di lem dengan lem terbaik. Bayangan yang ditampilkan oleh cermin itu tidak akan pernah sama lagi.

Dalam ingatanku, sebagai seorang anak perempuan, selalu merasa bahwa cinta ayah tidak sebesar ibu. Tapi nyatanya, cinta ayah sama besarnya dengan ibu. Sejak beberapa tahun yang lalu, ayahku sudah tidak lagi sesehat dulu. Penglihatannya mulai memburuk hingga hari ini, ayah sudah tidak bisa melihat lagi. Bahasa ayah juga berubah. Ayah mudah sekali marah dan aku pun seringnya ikut kesal dibuatnya. Padahal aku paham betul bahwa ayah berbuat demikian karena frustasi akan keadaannya. Ayahku belum sepenuhnya menerima. Seringkali ayah berucap sesuatu yang membuatku sangat sedih.

“Pah, jangan merokok lagi. Itu kan tidak sehat,” ucapku ketika menelpon.

“Biar saja! Biat cepat mati!” ketus ayah.

Aku hanya terdiam, menahan air mata. Anak mana yang tidak bersedih mendengar hal itu terucap dari orangtuanya sendiri.

“Pah, dengan kondisi seperti ini kan berarti Allah menutup salah satu yang bisa menjadi pintu dosa.”

“Iya, Amiin. Doakan papah semoga Allah mengampuni dosa-dosa papah.”

Aku tidak tidak bisa menlanjutkan obrolan. Lidahku kelu. Aku khawatir jika terus berbicara, air mataku akan tumpah dan memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan.

Ketika seorang anak perempuan menikah, itu akan menjadi ketakutan paling besar seorang ayah. Anak perempuannya akan pergi. Anak perempuannya bukan lagi menjadi miliknya. Anak perempuannya sudah menjadi milik dan tanggung jawab lelaki lain. ayah takut sekali melepas anak perempuannya untuk seorang lelaki yang belum ia terlalu kenal. Takut anak perempuannya akan terluka. Saat hati anak perempuannya terluka dan hancur berkeping-keping, disaat itu juga hati ayah akan patah. Jauh lebih patah dibandingkan anak perempuannya. Tapi, ayah tidak pernah menunjukannya. Ayah akan berpura-pura tegar untuk menenangkan anaknya. Cinta ayah untuk anak perempuannya selalu sebesar itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s