curhat

Krisis 24

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh good people, bagaimana kabarnya? Aku berharap kalian selalu sehat 😊.

10 hari yang lalu aku tepat berusia 24 tahun. For your information, aku lahir 4 November 1995 (sudah ku tebal kan nih, biar gampang di ingat). Mungkin aja kan tahun depan ada yang mau ngasih kado 🤣. Aku pernah membayangkan beberapa tahun yang lalu akan jadi apa aku di usia ini. Di usia ini, aku pernah berharap sudah menikah dengan dia yang mampu meluluhkan aku. Waktu itu aku cukup yakin kepada dia dan semua yang ada padanya. Aku memang berpikir pendek saat itu. Maklum masih anak kuliahan di usia awal 20 an dan masuk masa lelah kuliah. Yah begitulah wanita, pas capek kuliah banyak ngeluh bilang pengennya nikah aja. Ya kali nikah itu solusi. Padahal ya menikah itu malah akan memberi tantangan baru. Pernikahan isinya bukan bahagia saja tapi ada 2 kepala yang harus disatukan, ada ego yang harus di redam, dan ada masa dimana pertikaian selalu datang. Pernah ada seseorang dengan seenaknya datang dengan baik-baik dan pergi dengan tidak baik menurutku. Tapi aku tidak akan bahas kenapa. Aku sekarang malah bersyukur dengan kepergiannya. Waduh, malah curhat 😅. Eh tapi emang bener. Jika saat itu dia tidak pergi, aku tidak akan berusaha memperjuangkan mimpiku untuk merasakan tinggal di Jerman. Jadi makasih sudah berbuat demikian, yah meskipun itu tidak menyenangkan sih. Sungguh. Tahun kemaren juga aku melakukan Ta’aruf dengan temanku. Kami memang kenal sejak kuliah bahkan di jurusan yang sama. Dari awal memutuskan itu, aku tidak membiarkan hatiku ikut campur. Belum saatnya. Aku hanya ingin jika apa yang ku jalani saat itu tidak berhasil maka hatiku tetap baik-baik saja. Benar saja, itu tidak berhasil karena suatu hal dan aku tetap baik-baik saja. Tidak sedih sedikitpun.

Aku juga membayangkan di usia ini aku sudah bekerja. Meskipun aku tidak spesifik membayangkan seperti apa pekerjaanku, dimana aku bekerja dan apakah aku senang atau tidak. Tahun kemaren aku masih melakukan itu. Aku bekerja di salah satu pabrik makanan. Bekerja ternyata tidak semenyenangkan bayanganku. Bagian terbaik saat kerja hanya saat menit-menit terakhir pulang dan gajian 🤣. Aku memang tidak menikmati pekerjaanku. Aku bekerja hanya agar aku tidak menganggur dan tidak meminta pada orang tua lagi. Tapi nyatanya aku hanya bekerja 6 bulan saja. Aku ingin S2 saat itu. Aku suka belajar, aku suka berada di dalam kelas. Oleh karena itu di usia ke 23 harapanku adalah menjadi mahasiswa kembali. Namun tahun kemaren, kota Palu mengalami musibah. Gempa berkekuatan 7,4 SR meluluhlantahkan kota Palu. Gempa itu menimbulkan Tsunami dan Likuifaksi yang menimbulkan banyak korban jiwa serta menghilangkan harta benda masyarakat. Alhamdulillah kelurahan tempat keluargaku tinggal tidak mengalami kerusakan yang parah tapi rumah butuh perbaikan. Oleh karena itu aku menunda rencana S2. Aku hanya menunda bukan membuang mimpi itu. Suatu saat aku akan menjemputnya.

Aku rasa hanya itu. Dulu hidupku begitu begitu saja. Tidak ada yang rencana dan keinginan kuat. Let it flow. Padahal itu tidak baik karena tidak akan memberi perubahan baik. Eh tapi aku sudah punya impian S2, jadi lumayan lah ada satu mimpi. Di tahun 2014, Aku pernah menulis mimpi-mimpiku di selembar kertas dan ku tempel di dinding kamar kos. Salah satunya yaitu aku ingin S2 di Jerman. Iya jerman. Dan siapa sangka 5 tahun kemudian aku bisa merasakan tinggal di jerman. Meskipun bukan untuk kuliah sih. Tapi mendekati yakan?

Di tahun ini, di usia ini, aku merasakan banyak hal yang baru pertama kali ku lakukan selama hidup. Aku belajar bahas asing yang jaman SMA masuk ke jajaran pelajaran yang di benci. Aku membuat paspor dan visa seorang diri. Rela naik motor jauh dari Batu ke Blitar sendirian demi membuat paspor. Pergi ke negara yang beda benua dengan Indonesia seorang diri. Merasakan long flight di kursi ekonomi yang memang sangat capek dn membosankan. Mencoba makanan lengkap yang di sediakan di pesawat. Maklum biasanya hanya naik penerbangan domestik termurah yang kalo dapat air minum aja sudah bersyukur. Pertama kali hidup di tempat dengan bahasa yang berbeda, pertama kali tidak menjadikan nasi makanan pokok sehari-hari dan pertama kali punya teman asli yang berbeda bahasa. Termasuk pertama kali liburan dan menginap di hostel sendirian. Biasanya di Indonesia, saat keluar Kota, menginap selalu di tempat keluarga atau teman. Hemat ongkos. Sebenarnya masih banyak pertama kali lainnya dan kepanjangan jika di tulis semua. Tapi yang jelas semua pertama kali itu memberikan pelajaran.

Menjadi dewasa itu ada sisi menyenangkan dan tidaknya. Senangnya itu karena sudah di beri hak penuh oleh orang tua untuk memutuskan. Tapi di sisi lain ada banyak tanggung jawab yang harus di lakukan. Ada banyak hal yang harus di pikirkan. Ada banyak tuntutan yang harus di laksanakan. Di usia ke 24 ini aku masik punya mimpi untuk kuliah di Jerman karena posisi aku juga sudah berada disini dan sepertinya bisa ku usahakan. Tapi di sisi lain jika aku terus disini bagaimana dengan orang tuaku. Mereka berhak atas diriku. Jika pakai hitung-hitungan usia, aku sepertinya baru bisa S2 tahun 2021 karena aku mau nabung dulu dan memperlancar bahasa Jermanku hingga paling tidak aku sudah mengantongi sertifikat B2. Di sisi lain, aku sudah tidak muda dan orang tuaku sudah tua. Masa aku meninggalkan mereka lebih lama. Aku sudah tidak penuh tinggal bersama mereka sejak tahun 2013. Jika aku pulang tahun depan, di usia ke 25, apa yang akan ku lakukan di rumah. Mencari pekerjaan disana yang susai jurusanku agak sulit. Aku juga ingin pulang sebenarnya. Aku ingin tinggal bersama keluargaku sebelum menikah.

Hmm menikah ya. Aku juga berharap hal itu. Papahku sudah berharap demikian. Beliau menginginkan anaknya segera menikah, terutama kakak lelaki ku yang sekarang usianya sudah 31 tahun. Sebenarnya bukan aku yang menunda atau tidak ingin menikah tapi memang Allah yang belum kasih. Di saat teman-temanku satu per satu menikah dan memiliki anak, aku masih setia sama kesendirian. Aku memang sendiri tapi bukan berarti aku kesepian. Aku sering bergumam dan bertanya pada diri ku sendiri kenapa belum juga ada yang meminangku atau paling tidak berkata mau mengenalku untuk menjalin hubungan serius. Temanku yang tahun kemaren tidak masuk hitungan karena dia belum benar-benar siap. Yang aku maksud disini ya lelaki yang sudah benar-benar siap dan memang membutuhkan pendamping. Dia juga sudah bilang tentang aku kepada orang tuanya. Aku sudah puny visi untuk hidupku dan pernikahanku. Visi itu tidak main-main dan mungkin karena itu juga Allah belum kasih aku jodoh karena Allah sedang menyiapkan lelaki itu agar memiliki visi yang sama denganku. Allah juga mau aku bisa terus belajar agar sesuai dengan visiku yang besar itu. Meskipun begitu aku menikmati kesendirianku. Aku bisa melakukan banyak hal postif dan membuat diriku bertumbuh.

Aku punya satu mimpi lagi. Aku ingin memiliki buku yang atas namaku sendiri. Maksudnya aku ingin menulis sebuah buku. Buku beneran yang di cetak di percetakan dengan sampul menarik. Bukan buku yang ku tulis tangan. Kalo buku itu aku sudah punya banyak. Semoga di ulang tahun beberapa tahun kemudian Allah masih memberiku umur panjang dan aku bisa menghadiahkan diriku sendiri, sebuah buku hasil karyaku. Aamiin Allahumma Aamiin.