Traveling

Perjalanan menuju Fatih

Kota Istanbul sudah terlihat dari ketinggian ribuan kaki. Meskipun aku tidak bisa melihat dengan jelas keindahan kota karena posisi dudukku tepat di pinggir lorong sehingga akses melihat keluar sangat terbatas. Dari dalam pesawat, aku sudah bisa menebak cuaca hari ini akan hangat karena sudah memasuki musim semi dan juga langit berwarna biru. Lalu terdengar suara pramugari yang meminta penumpang untuk menegakkan sandaran kursi, melipat meja dan mengencangkan sabuk pengaman sebelum pesawat mendarat. Ini adalah penerbangan pertamaku setelah hampir dua tahun tinggal di Jerman.


Dadaku berdesir mencoba menebak bagaimana keadaan negara Turki yang penuh sejarah ini. Apakah akan serapih negara-negara di Eropa ataukah tidak jauh berbeda dengan negara di Asia. Aku juga membayangkan bagaimana aku sepekan ke depan. Apakah akan mengalami kendala bahasa dan transportasi. Pasalnya aku tidak bisa berbahasa turki dan hanya sedikit orang yang bisa berbahasa inggris. Tapi kemudian aku tidak lagi memikirkan. Just let it flow.

Pesawat yang aku tumpangi

Beberapa menit kemudian pesawat mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional Sabiha Gökçen. Cuaca cukup panas namun tidak terik langsung menyambutku ketika turun dari atas pesawat. Aku mulai merasa gerah. Mantel hitam yang ku gunakan dari Jerman mulai kini terasa terlalu tebal dengan cuaca Turki. Tapi karena malas di ribetkan dengan mantel di tangan, aku memutuskan tetap menggunakannya meskipun keringat mulai bercucuran. Kami, para penumpang, langsung diarahkan naik ke bus yang akan mengantar kami menuju gedung bandara. Semua penumpang di wajibkan memakai masker dan aku sendiri memakai dua masker yaitu masker medis biasa dan masker FFP2 untuk memaksimalkan perlindungan. Negara Turki memiliki kasus Corona di lima besar dunia sehingga aku cukup memperhatikan masalah ini.

Suasana didalam bus menuju gedung bandara

Aku bersama penumpang yang lain langsung menuju imigrasi untuk pengecekan dokumen (paspor, visa, tes PCR, residence permit di Jerman karena aku posisi tinggal disana, dan HES Code). Tidak butuh waktu lama karena banyak loket yang dibuka sehingga antrian tidak panjang. Selanjutnya aku menuju tempat mengambil bagasi. Dari awal masuk gedung bandara hingga ke area ini kondisi relatif lengang. Tidak banyak orang dan mungkin juga karena masa pandemi. Semua barangku sudah lengkap dan kini aku harus menuju Fatih, salah satu distrik di Istanbul tempat aku menginap beberapa hari ke depan. Hotelku hanya berjarak 700m dari Masjid Hagia Sopia. Tapi sebelumnya aku keluar dari bandara, satu hal penting yang harus aku miliki yaitu koneksi internet. Aku tidak menggunakan layanan dari nomor Jerman ku karena harganya mahal sekali dan temanku yang tinggal di Turki menyarankan aku untuk membeli kartu begitu tiba di bandara. Letak kios yang menjual kartu Turki tepat berada di pintu keluar sehingga akan sangat mudah menemukannya.

Salah satu kios penjual kartu

Excuse me, I want to buy a simcard and the Internet for one week please,” kataku ke salah satu orang dari balik kaca.


Dia langsung memberiku selembar kertas yang sudah di laminating yang berisi daftar harga paket internet. “Which one do you want?”


“This one please.” Aku membeli kartu dengan paket internet 25G dengan harga 31€. Cukup mahal tapi worth it dengan jumlah internet yang diberikan. Mereka juga akan membantu mengaktifkan kartu menggunakan paspor.


Setelah bisa mengakses internet, aku mengecek dan memastikan kembali transportasi yang harus ku gunakan untuk sampai ke Hotel. Melalui Google Maps aku bisa mengecek jadwal, transportasi apa dan dari halte mana, serta jalan menuju halte atau tempat tujuanku. Aku sangat terbantu dan itulah sebabnya aku sangat membutuhkan akses internet disini.


Masalah baru dimulai saat aku ingin naik ke Bus yang akan mengantarku. Sedari awal aku tidak ingin naik taksi karena harganya mahal sekali. Sedangkan jika aku naik kendaraan umum, aku hanya harus membayar seperempatnya saja. Untuk bisa menggunakan transportasi di Istanbul, harus memiliki Istanbul Card sedangkan aku tidak punya dan tidak tahu bagaimana cara belinya. Temanku hanya bilang bahwa kartunya bisa di beli dan di isi ulang di mesin yang ada disetiap halte. Memang benar mesinnya ada, tapi aku tidak mengerti cara pakai mesin tersebut meskipun ada pilihan bahasanya. Aku tidak tau cara mengganti bahasanya.


Can you help me please? How can I buy the Istanbul Card?” tanyaku hampir ke setiap orang yang mampir ke mesin untuk isi ulang kartu mereka.


Ekspresi mereka hampir sama semua, bingung atau bodo amat seakan suaraku hanyalah angin lalu. Padahal aku bertanya ke orang-orang yang masih muda karena biasanya anak muda bisa bahasa inggris walaupun terbatas. Aku tidak tau apakah mereka tidak mengerti ucapanku, sedang terburu-buru atau alasan lain. Yang pasti aku berada di halte selama hampir setengah jam dan bertanya ke banyak orang hingga akhirnya ada dua orang lelaki yang bisa berbahasa inggris.


I will help you to buy a card,” kata salah satu lelaki dan membuatku bernafas lega.

Istanbul card


Aku pikir masalah transportasi akan selesai karena dengan adanya Istanbul Card aku sudah bisa menggunakan semua transportasi dan tiba di hotel dengan aman. Tapi nyatanya tidak. Lelaki itu bilang bahwa mesinnya error sehingga ia tidak bisa membeli kartu dengan mesin di halte ini. Dia lalu berpikir cara lain dan mencarikan aku bus yang bisa dibayar cash. Alhamdulillah busnya ada dan setelah mengucapkan terimakasih, aku naik ke dalam bus.


Kursi penumpang masih banyak yang kosong. Model kursi penumpang sama seperti bus apda umumnya dengan formasi 2-2 namun di paling belakang kursi 5 kursi berdampingan sehingga this dak ada lorong yang memisahkan. Aku lalu memilih duduk di deretan kursi yang masih kosong. Aku tidak berniat untuk ngobrol dengan siapapun. Hanya ingin menikmati jalanan kota. Ongkos bus yang harus aku bayar yaitu 24TL (setara 2,4 an €) dan ini murah. Di München, untuk menuju satu tempat, harga tiketnya yaitu 3,4€. Aku juga membeli air mineral botol seharga 2TL. Baru saja aku membuka botol air mineralku, sepasang lansia masuk dan melwati lorong kursi. Mereka mencari deretan kursi yang kosong namun tidak ada. Semuanya sudah terisi salah satunya sehingga mereka hendak duduk di deretan kursi paling belakang. Mengetahui itu, aku segera pindah dan hendak duduk di oaling belakang. Namun seorang lelaku menawarkanku. Dia bersama istri dan anaknya duduk terpisahkan lorong. Dia menawarkanku untuk duduk di sebelahnya persis didekat jendela. Entah kenapa aku mengiyakam saja tawarannya. Tidak enak juga menolak.


Sepanjang perjalanan kami ngobrol dan aku mengetahui bahwa mereka adalah keluarga muslim Somalia yang kini tinggal di US namun punya rumah juga di Turki dan bisa berbahasa Turki. Mereka berniat liburan ke Greece namun tidak boleh naik pesawat karena tidak mengisi form kesehatan. Lalu mereka menawarkanku untuk naik taksi bareng mereka karena tujuan kami sama. Hanya saja nanti mereka akan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta. Aku dengan senang hati mengiyakan. Paling tidak sampai ke Fatih aku sudah aman, hanya tinggal memikirkan bagaiamana caranya ke hotel. Mereka bilang bahwa aku sangat berani. Tidak bisa bahasa Turki tapi liburan ke Turki sendirian dan tidak ikut dalam tour. Aku saja tidak menyangka sama diriku sendiri. Setelah menempuh 2 dua jam perjalanan, kami tidak di halte tram. Dari sana, mereka akan melanjutkan perjalanan dan pun demikian denganku. Kami berpisah setelah bertukar kontak dan aku memberikan coklat untuk kedua anak mereka.


Aku mulai lapar. Sebenarnya aku membawa bekal nasi namun belum sempat memakannya. Waktu sudah menunjukan sekitar pukul 19.00 namun karena musim semi, matahari masih terang karena matahari akan terbenam sekitar pukul 20.30. Dari halte tempat kami berpisah hingga ke hotel ku masih 6km dan tidak mungkin aku jalan kaki. Jaraknya masih terlalu jauh untuk jalan kaki di jam segini dengan barang bawaan yang cukup banyak. Istri dari keluarga Somalia tadi menyarankanku naik taksi saja tapi aku kekeuh tidak mau. Aku hanya tidak mau di permainkan harga sehingga berusaha untuk naik kendaraan umum. Masalah yang sama saat tiba di Bandara terulang. Aku tidak bisa menemukan orang yang bisa membantuku membeli istanbul card dan sudah mulai panik. Pasalnya waktu terus berjalan dan magrib sebentar lagi. Aku tidak mau masih di luar saat gelap. Itu akan sangat menyusahkanku. Dengan kondisi tubuh yang sudah lelah, keringat dingin karena lemes dan lapar aku akhirnya bertanya ke sekolompok lelaki dan alhamdulillah mereka bisa berbahasa inggris.


“Hi, can you speak English?” tanyaku.
Yes,” jawab salah satu dari mereka.


Can you help me? This is my first time in here and I want to go to my hotel but I don’t know how can I go there,” kataku memulai pembicaraan.


Do you know how can I buy the Istanbul card? Because without that, I can’t use the Bus or the Tram,” sambungku.


You can use the taxi,” sarannya.
No, I don’t want. I can’t speak Turkish and I’m sure, it will be expensive.”


Aku memberi tahukan nama, asal, tempat aku tinggal dan menceritakan kondisiku. Setelah itu salah satu dari mereka meminjamkanku istanbul card miliknya dan salah satu lagi mengantarku hingga di halte terdekat dengan hotel ku. Kami lalu berjalan menuju halte tram. Ada 6 pemberhentian dari halte tempat naik hingga tiba di halte tempatku turun. Aku sangat berterima kasih dan sebelum berpisah aku memberikan stok coklat terakhirku kepada lelaki tersebut. Banyak orang baik yang Allah gerakan untuk membantuku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s