Cerpen

Berhenti

Duniaku tiba-tiba gelap. Aku pernah berkali-kali membayangkan peristiwa ini, berusaha menyiapkan hatiku, namun ternyata sia-sia. Usaha menguatkan hatiku satu tahun belakangan ini hancur begitu saja. Tidak berbekas. Aku tetap tidak bisa bahagia di hari bahagianya.

Sebuah tangan mengelus pundakku lembut. “Are you okay, Kal?”

Aku tidak menjawab, hanya memutar kepala ku kearah sumber suara. Dia Anita, temannya yang kini menjadi sahabat karibku.

Matanya memandangku iba. Aku paham betul arti tatapan itu dan menatapnya dengan air mata yang sudah siap meluncur.

“Dadaku sesak. Aku tidak tahu harus bagaimana. Bukankah harusnya aku ikut bahagia untuknya? Bukannya aku harus tersenyum?” cecarku.

Anita tidak merespon. Dia hanya menggenggam tanganku, berusaha menguatkanku. Tatapan kami menuju ke satu tempat yang sama. Pelaminan serba putih, senada dengan pakaian pengantin. Putih bersih. Bagian belakang pelaminannya dipenuhi dengan bunga putih. Ini persis sekali dengan dekorasi pernikahan impianku yang selalu aku sampaikan kepadanya.

“Nanti kalau kita nikah, akadnya serba putih yaaa…..” ujarku saat kami menghadiri acara pernikahan seorang teman.

“Bajunya pengantinnya putih, baju kamu putih, kebaya aku putih dan baju orang tua kita juga putih. Semua serba putih” kataku menjelaskan.

“Iyaaa….. Terserah kamu, aku ikutin semua kemauanmu” jawabnya mengamini.

Beberapa bulan setelahnya kami masih baik-baik saja. Hingga suatu hari dia tidak mengabariku sama sekali. Tidak ada satu pesan pun darinya. Aku masih berpikir positif. Mungkin saja dia sibuk kerja. Aku tidak mau menjadi pasangan posesif yang minta dikabari sesering mungkin. Dua hari, tiga hari kemudian masih sama. Aku mulai gusar. Dia kemana? Apakah dia sakit? Akhirnya aku menelponnya.

“Halo mas. Kamu sibuk kerja?” tanyaku.
“Iya, maaf nih. Aku masih dinas di luar kota.”

Dinas keluar kota dan tidak mengabariku sama sekali?

“Pulang kapan?”
“Lusa, flight pertama dari sini. Pulang kerja aku jemput.”
Ada yang aneh. Selama 3 tahun bersamanya, ia tidak pernah menjemputku karena jarak kantor kami sangat berjauhan dan juga jalan ynag super macet. “Tumben. Ada apa?”
“Nanti aja. Ada yang aku mau omongin.”
“Oke. Hati-hati,” kataku sebelum menutup sambungan telfon.

Seperti janjinya dua hari lalu, ia menjemputku dan kami langsung menuju tempat makan favorit kami. Setelah makan, tanpa basa basi, aku langsung bertanya tentang apa yang ingin dibicarakannya.
Dia tampak menimbang-nimbang sesuatu. Ada jeda satu menit sebelum ia berbicara.

“I need a break”

Aku tidak paham maksudnya. “Break? Kamu ada masalah di kantor? Mau cuti?”

“Bukan. Break dari hubungan kita?”

Ucapannya sukses membuat jantungku bekerja dua kali lipat.
“Kenapa? Kita ada masalah apa? Tolong dibicarain. Jangan kayak gini!” kataku kalut.

“Aku jenuh. Kamu kayak gak butuh aku. Tiap aku mau bantu kamu saat ada masalah, kamu selalu bilang bisa sendiri. Kamu terlalu mandiri. Gak butuh orang lain.”

“Aku gak mau ngerepotin kamu.”

“Kamu dan pikiranmu selalu begini. Selalu mikir sendiri, beranggapan apa yang di pikiranmu selalu benar. Berasumsi dan berasumsi. Tidak pernah validasi. Laki-laki itu ingin berguna untuk perempuannya.”

Aku hanya diam, tidak punya pembenaran karena semua yang diucapkannya benar. Padahal, aku hanya tidak ingin menjadi perempuan manja yang selalu mengandalkan lelakinya. Aku berusaha melakukan semuanya sendiri karena ibuku seperti itu. Tidak pernah minta tolong, bahkan saat menebang pohon. Ibu selalu berkata padaku untuk berusaha melakukan semuanya sendiri. Tidak boleh menyusahkan orang lain. Dan ini pertama kalinya aku tahu bahwa menjadi mandiri tidak selamanya baik.

Tidak ada seorangpun yang membuka suara. Kami sama-sama diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Ayo, aku antar kamu pulang, ” ajaknya memecah keheningan.
Aku bimbang, mengiyakannya atau pulang sendiri. Kalau aku ikut dengannya, perjalanan kami akan canggung sekali. Terlebih, jarak rumahku dari sini cukup jauh. Aku mungkin bisa menangis saat masih bersamanya. Sekarang saja, aku hanya berusaha untuk tidak menangis.

“Aku telpon Anita untuk menjemputmu. Aku temenin sampai dia datang” ujarnya lagi. Dia sepertinya paham kalau aku tidak ingin pulang bersamanya.
Sekitar setengah jam kemudian, Anita datang dan langsung menghampiriku.
“Nit, tolong antar dia pulang. Aku pergi dulu,” katanya sembari berdiri dan meninggalkan kami.
Begitu ia pergi, tangisku pecah. Aku tidak bisa menahannya lagi. Anita tidak menanyakan apapun. Ia hanya memelukku dan menuntunku masuk ke mobilnya.

Sejak kejadian itu, tidak ada kabar darinya. Atau sekadar menanyakan kabarku. Lalu kabar pertama dan terakhirnya dalam beberapa bulan ini hanya datang ke kosku, dan meminta untuk mengakhiri hubungan kami yang tidak jelas ini. Aku tidak mengiyakan atau menolak. Hanya masuk kembali ke kamarku dan menangis. Dia tidak butuh jawabanku. Kedatangannya hanya untuk menginformasikan keputusannya.
Hingga hari pernikahannya. Tepat satu tahun 3 hari setelah putusnya hubungan kami, aku masih tidak bisa melepaskannya. Dan hari ini adalah akhir dari perasaanku untuknya. Seharusnya seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s