Story Of my Life

Rumor

Baru-baru ini ada rumor tersebar di keluarga dari pihak ibuku. Dan aku yang menjadi tokoh utamanya. Entah siapa yang pertama memulai dan cerita apa yang mencuat pertama tidak ada yang tahu lagi. Antar satu pihak dengan yang lainnya hanya bermodalkan katanya dan ketika aku tanya kata siapa, tidak ada yang bisa memastikan.

Suatu hari aku sedang ngobrol dengan mamah melalui sambungan telepon. “Kamu nikah tahun depan?” tanya mamah.

“Kata siapa? Kok saya baru tau? Padahal aku yang mau nikah?” tanyaku balik.

“Gak tau siapa yang bilang. Katanya gitu,”

“Mamah, kalau saya nikah tahun depan pasti saya dan mamah lah yang tau duluan. Hahaha. Tapi gapapa, sekalian di aminin. Siapa tau kejadian beneran.”

Lalu beberapa hari kemudian sepupuku menghubungiku dan menanyakan hal yang sama. Tapi kali ini waktunya di percepat menjadi tahun ini.

“Kamu kata nikah tahun ini juga?”

“Kata siapa?Mau doong kalau bisa tahun ini. Hahahaha. Biar jadi doa sekalian.”

Kalau dulu di tanya seperti ini mungkin aku akan sewot. Tapi seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang ku temui dan berbagi cerita, hal-hal seperti ini sudah tidak lagi bisa menyentil sisi emosionalku. Aku hanya mengaminkan rumor tersebut.

Persoalan tentang pernikahan sering sekali menjadi bahasan dalam story Instagram mas Gun. Lalu di Club Family and Parenting pun membahas tentang ini. Termasuk tentang pengambilan keputusan saat ingin menikah. Jangan sampai keputusan kita bergantung dan di kendalikan oleh orang lain karena pada akhirnya kita yang akan menjalani. Pertanyaan seperti ‘boleh gak menolak lamaran si A?’ ‘Kalau semisal kriteria calonku lulusan S1 tapi yang datang melamar lulusan SMA itu gimana?’ ‘Kalau dia janda/duda, apakah lingkunganku akan menerima?’ secara tidak langsung mengizinkan orang lain untuk campur tangan atas kehidupan kita.

Jika pertanyaan seperti ini saja masih di pertanyakan mungkin saja sebenarnya ia belum benar-benar siap menikah. Jangan pernah menikah karena impulsif. Memang benar tidak ada kehidupan pernikahan yang semanis fairy tail tapi bukan berarti kita menerima siapapun yang hadir datang tanpa pertimbangan matang. Sudah terlalu banyak pelajaran yang bisa di ambil dari para influencer. Jangan sampai dua orang yang tadinya saling mengasihi berubah menjadi dua orang yang saling membenci dan buruknya lagi membongkar aib satu sama lain.

So, bagiku menikah itu bukan sprint tapi marathon. Butuh komitmen, usaha mempertahankan untuk bisa mencapai garis finish yang jauh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s