curhat

Menjadi orang lain

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Dulu, aku punya banyak keresahan yang sepertinya dirasakan banyak orang. Salah satunya yaitu ingin menjadi orang lain. Ketika melihat orang lain yang memiliki privilage dari lahir, aku yang lahir dari keluarga biasa-biasa saja pernah berandai-andai berada di posisi itu. Hidup tanpa perlu khawatir dengan kondisi finansial. Mau beli ini tinggal ambil, mau makan itu tinggal makan, mau jalan kesana tinggal jalan, mau bantu orang tinggal bantu. Intinya tidak lagi melihat label harga. Apalagi seringkali mereka yang memiliki privilage memiliki tampilan yang good looking. Mereka punya anggaran tersendiri untuk perawatan. Entah itu facial, creambath, pake krim ini, krim itu dan segala jenis yang tidak ku pahami. Jangankan untuk perawatan, mau jajan saja aku tetap mempertimbangkan harga dan berat dari jajan yang ingin ku beli. Aku akan mencari yang termurah. Perawatanku semua berasal dari dapur. Untuk masker wajah, aku menggunakan ampas teh celup yang sudah ku campur dengan madu dan mengoleskan minyak zaitun di wajah setiap sebelum tidur. Jadi wajar saja kalo aku tidak sebening wanita lain. Saking hematnya, aku lebih banyak jalan kaki ketimbang naik bus disini.

Aku jadi teringat saat masih SD, mamah tidak membelikan aku buku tulis saat tahun ajaran baru. Mamah memberikan aku uang dan membiarkanku membeli sendiri. Saat itu, aku dan saudaraku pasti membeli buku tulis merk ‘Dodo’ atau buku tulis bergambar artis yang harus ku sampul biar tidak malu pas di sekolah. Dua jenis buku itu adalah favoritku karena harganya paling murah tapi halamannya banyak. Meskipun memang sih, kertasnya tipis tapi demi uang yang diberi mamah masih ada sisanya sehingga aku bisa pakai untuk beli mainan. Selama aku sekolah, buku merk Sinar Dunia, Kiky dan Boss tidak pernah ku miliki. Ketiga merk itu mahal dan uang yang dikasih tidak cukup untuk membeli 4 pack buku tulis. 2 pack untukku dan 2 pack untuk Dini. Lalu jaman SD juga, uang jajanku tidak sebanyak teman-temanku dan aku juga ingin menabung. Untuk memenuhi kebutuhan jajan, di SD ku ada yang jual cabut-cabutan tapi menggunakan Brem. Cabut-cabutan itu sejenis judi yang baru ku tau saat sudah besar. Jadi kami membeli cabut-cabutan dan berharap hadiah yang nilainya lebih besar ketimbang harganya. Biasanya hadiah yang ditawarkan itu mainan tapi ada juga uang. Brem itu sejenis permen yang terbuat dari tape. Nah, kebanyakan anak-anak yang beli hanya mau mengincar hadiahnya dan mereka tidak hanya membeli satu atau dua. Lalu brem nya dibuang begitu saja, jadi aku bekerja sama dengan si penjual. Aku meminta tolong si penjual untuk mengumpulkan brem yang tidak dimakan dan pas pulang sekolah aku menghampiri penjual untuk mengambil brem. Aku bisa membawa pulang satu kantong plastik hitam yang kecil 😂.

Aku juga sering berandai-andai berada di posisi temanku yang bisa merayakan ulang tahunnya. Ini cerita masih jaman SD. Setiap datang ke acara ulang tahun teman, mataku selalu tertuju pada kue ulangtahun dan tumpukan kado. Aku juga mau dikasih kado seperti itu.

Ketika SMP-SMA, aku sering bertanya pada diriku sendiri kenapa aku tidak seperti mereka. Aku tidak sekolah di sekolah favorit. Disekolah, aku bukan anak populer dan bahkan cenderung menutup diri. Temanku tidak banyak dan aku masih merasa tidak cantik saat itu. Kulitku gelap, rambutku kering dan wajahku kayak kilang minyak. Aku belum berjilbab saat SMP. Disaat teman-temanku mulai berpacaran, aku tidak dekat dengan lelaki manapun! (Maaf masih bocah dan belum paham itu gak boleh). Aku merasa tidak ada yang tertarik padaku. Bukannya aku mau pacaran, aku hanya ingin merasakan gimana sih rasanya saat ada yang suka padaku. Ketika SMA pun demikian, aku masih berada di jajaran perempuan tidak populer dan itu tetap bertahan sampai sekarang. Hahahaha.

Ketika kuliah perasaan ingin menjadi orang lain masih ada. Aku masih hidup dengan mempertimbangkan harga saat mau membeli sesuatu. Aku ingin menjadi seperti temanku yang cantik, pintar, putih, bisa membeli apa yang dia mau, dikenal dosen, dan di sukai banyak orang. Bagiku, menjadi sepertinya itu bisa memudahkan hidupku. Sepertinya tidak ada yang tidak menyukainya. Aku masih tidak dekat dengan lelaki manapun padahal aku kuliah Teknik Industri yang perempuan dikelasku hanya 7 orang. Tapi di semester 4 aku pernah dekat dengan seorang lelaki dari jurusan lain. Meskipun hanya sebentar, aku merasakan apa yang ingin kurasakan dari jaman SMP. Eh tapi aku tidak pacaran loh. Lalu ketika aku mulai belajar tentang Islam, orientasiku berubah. Aku malah ingin menikah muda dan menjadi pasangan seperti yang sering ku lihat di sosial media. Aku ingin seperti mereka yang punya pasangan paham agama, ngajinya bagus dan tampan. Duh, dasar manusia.

Belum lama ini aku membahas hal ini dengan temanku. Aku bilang padanya bahwa aku pernah iri padanya. Dia bisa S2 setelah selesai S1 dengan dibiayai orang tua. Dia bisa makan apa yang dia mau. Saat uang habis, dia bisa minta lagi. Tidak denganku yang memiliki keterbatasan finansial. Lalu dia malah berkata bahwa jadi diriku itu enak. Aku bisa main kemana pun, orang tua ku support ketika aku mau melakukan sesuatu yang positif. Sedang dia, sekedar untuk keluar kos membeli sesuatu harus ijin orang tua. Padahal orang tuanya di Palu dan dia kuliah di Malang. Dia membuatku akhirnya tau kenapa dia lebih banyak menghabiskan waktunya dikosan. Sedang aku dulu malah jarang pulang, bahkan sering menginap di kos dia. Aku menginap karena aku malas balik ke kosan. Aku nge kos di Batu tapi kegiatanku banyak di Malang. Tapi aku tidak akan cerita kenapa aku kos di Batu. Mungkin lain kali aku akan cerita. Dia ada benarnya, meskipun finansial terbatas aku masih bisa ikut banyak kegiatan. Meskipun memang sebisa mungkin berhemat. Aku pernah loh jadi tukang ojek dan makan hampir seminggu pakai telur rebus dan boncabe doang pas kerja. Saat aku masih kerja di bandung, kosan gak ada dapur umumnya jadi bikin telur rebus bersamaan dengan masak nasi di magic com. Lebih beruntung pas kos di Batu, untuk menghemat aku hanya beli sayur masak 5 ribu di warung sebelah kosan dan itu dapat semangkuk, cukup buat makan sehari. Tapi tak jarang, ibu yang punya warung kasih aku bonus lauk, entah itu bakwan jagung, tempe bacem atau perkedel tahu. Lumayan kan. Duh, malah cerita kemana mana. Balik ke topik awal.

Sepertinya sejak tahun kemaren aku berhenti berandai-andai menjadi orang lain. Aku sudah bisa menerima diriku dengan seutuhnya, dengan bagaimana aku apa adanya. Aku memberi hak dicintai oleh diriku sendiri. Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang terjadi pada diriku di masa lampau. Bahkan aku sangat bersyukur merasakan hal itu. Pada akhirnya apa yang terjadi pada diriku di masa lampau yang membentuk diriku sekarang. Aku tidak mudah dipengaruhi kondisi. Aku tidak tergoda dengan barang branded, aku tidak suka mengoleksi sepatu. Bahkan hingga saat ini aku tidak pernah punya sepatu lebih dari 3. Aku tidak suka beli makanan, minuman atau barang mahal hanya demi menuruti gengsi. I don’t care about it. Aku tidak peduli tanggapan orang terhadapku yang tidak ganti hp, sepatu itu itu aja, tas juga gak pernah berubah.

Bagiku, hal yang paling berharga dan penting adalah menjalani hidup dengan sebaik mungkin. Tidak perlu menjadi orang lain untuk bahagia. Tidak perlu barang branded untuk bahagia. Tidak perlu makan di tempat mahal untuk tetap hidup dan berkarya. Aku ingin dikenal bukan karena siapa aku tapi bagaimana aku menjalani kehidupan. Bahkan bukan masalah aku tidak dikenal penduduk bumi tapi aku ingin dikenal oleh penduduk langit.

Aku bahagia dengan aku yang sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s