Meraih Mimpi

Suka Duka Menjadi Au Pair

Tapi satu hal yang selalu aku ingat, dimanapun orang baik berada, ia akan dipertemukan dengan orang baik pula.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Alhamdulillah tulisan ini akhirnya rampung juga. Belakangan ini aku sedikit repot membuat visa baru karena setelah program Au Pair berakhir, aku akan mengikuti program Bundesfreiwilligendienst (BFD). Nanti aku akan menulis tentang ini terpisah. Kali ini aku akan menuliskan tentang suka duka yang aku rasakan setahun belakangan ini. Aku tiba di Jerman 8 Agustus 2019 sebagai Au Pair di salah satu keluarga di Ahorn, kotamadya di distrik Coburg, negara bagian Bavaria. Gast Familie (GF) ku bukan orang Jerman asli namun sudah berkewarganegaraan Jerman.

Kalau boleh jujur, aku sedikit banyak bangga pada diriku sendiri karena bisa menjalani satu tahun ini dangan baik. Aku menyebut demikian karena ini pertama kalinya aku ke luar negeri, sendirian, dan tinggal dengan orang yang samasekali tidak aku kenal. Apalagi kemampuan bahasaku sangat-sangat terbatas. Awalnya, aku sangat khawatir tidak bisa menjalani hari-hari dengan baik karena ini sangat jauh dari zona nyamanku. Takut jika akan ada kejadian buruk yang terjadi padaku sedang aku tinggal di negara orang, menjadi minoritas dan tidak memiliki siapapun yang sekiranya bisa membantu serta memahamiku. Tapi satu hal yang selalu aku ingat, dimanapun orang baik berada, ia akan dipertemukan dengan orang baik pula. Dan itulah yang terjadi kepadaku.

Baiklah, berikut suka duka menjadi Au Pair poin per poin versiku sehingga lebih mudah untuk memahaminya.

Kelebihan program Au Pair :

  1. Mudah dan murah

Banyak cara yang bisa ditempuh untuk bisa ke Jerman tapi dengan menjadi Au Pair adalah cara yang paling mudah dan murah selain ikut keluarga atau kamu punya suami orang Jerman. Hehehehehe. Ada website gratis yang menyediakan informasi ribuan Host Family/GF yang sedang membutuhkan Au Pair. Selain melalui website, bergabung dalam grup di Facebook juga sangat membantu. Aku snediri bergabung dalam grup AFA Germany (Aupair, FSJ, Azubi aus Indonesian). Disana, banyak orang-orang yang sudah di Jerman dengan senang hati menjawab segala pertanyaan dan seringkali banyak anak Au Pair yang membantu GF nya untuk mencari Au Pair baru pengganti dirinya.

Kemampuan bahasa bukan menjadi faktor utama. Sertifikat bahasa Jerman dibutuhkan saat mengajukan visa. Calon Au Pair yang merasa kurang bisa berbahasa Jerman bisa mencar keluarga yang bisa berbahasa inggris. Tidak harus jago, yang penting bisa berkomunikasi dengan baik sehingga tidak ada kesalahpahaman yang terjadi hanya karena miskomunikasi. Eitttss… tapi jangan sampai malah tidak mau belajar bahasa Jerman. Tujuan program ini kan untuk belajar bahasa jadi sesampainya di Jerman wajib kursus bahasa.

  1. Bisa merasakan tinggal gratis di luar negeri

Nah ini sudah jelas ya. Karena selama menjadi Au Pair, tidak perlu mengeluarkan biaya makan, tempat tinggal bahkan asuransi. Semua sudah di tanggung oleh GF. Seorang Au Pair juga mendapat uang saku 260 Euro + 50 Euro untuk kursus bahasa.

  1. Mandiri dan lebih disiplin

Selama satu tahun tinggal di negara orang dan di keluarga baru pasti akan mendapat banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang secara tidak langsung membuat diri menjadi mandiri. Semua permasalahan diselesaikan sendiri. Lalu mungkin saat di Indonesia, masih kurang menghargai waktu maka jika tinggal disini, mau tidak mau akan belajar menjadi orang yang tepat waktu. Saat janjian sengan orang lain, tidak boleh terlambat atau bahkan datang sangat terlalu cepat. Itu tidak sopan. Kendaraan umum disini juga hampir selalu tepat waktu sehingga jika terlambat datang, harus rela menunggu jadwal berikutnya.

  1. Kesempatan untuk menjelajahi Eropa

Siapa sih yang tidak tergiur dengan ini. Aku rasa semua orang ingin. Bagi mereka yang mendapat GF yang suka traveling dan dengan senang hati mengaja Au Pair mereka ikut maka ini kesempatan yang sangat baik. Kapan lagi bisa jalan-jalan gratis kan? Seorang temanku bahkan pernah diajak liburan ke Mesir dan semua biaya di tanggung oleh GF nya. Tapi jika yang bernasib sepertiku, tidak diajak jalan maka bisa menabung untuk bisa jalan-jalan. Tidak perlu mengunjungi negara yang jauh, cukup di negara tetangga atau kota-kota lain di Jerman yang tidak butuh biaya banyak.

  1. Mengenal orang dari berbagai belahan dunia

Selama menjadi Au Pair, aku kursus bahasa Jerman di Volkshochscule. Disana, aku mengenal teman-teman kelasku yang berasal dari berbagai negara. Ada yang dari Rusia, Afrika, Columbia, Jepang, Korea Selatan, Polandia dan juga ada yang dari Indonesia. Jadi bukan Cuma aku sendirian yang orang Indonesia. Dia seorang laki-laki yang menikah dengan perempuan Jerman. Aku berteman akrab dengan orang yang berasal dari Columbia. Namanya Alejandar dan dia juga seorang Au Pair. Kesamaan nasib membuat kami bisa berbincang dengan nyaman dan nyambung.

Kekurangan menjadi Au Pair

Jika ada kelebihan pasti ada kekurangan. Karena tidak ada yang sempurna di dunia ini selain cintaku padamu. Apaan sih!

  1. Merasa jadi pembantu.

Tidak jarang GF juga akan meminta tolong untuk mengerjakan ini itu. Mungkin di kesepakatan awal GF hanya minta tolong untuk membersihkan lantai rumah dengan vacuum cleaner, menata alat-alat makan yang sudah dicuci menggunakan mesin atau ikut merapihkan jika rumah diberantakin oleh anak-anak. Namun jika GF merasa Au Pairnya adalah orang yang ringan tangan membantu, siap-siap deh kerjaan bertambah.

  1. Merasa asing

Hal ini wajar terjadi karena sebagai orang baru yang tinggal di tengah-tengah keluarga bahagia. Walaupun GF sangat baik, rasa asing ini tidak bisa hilang begitu saja.

  1. Uang saku sedikit

Jumlah 260 Euro itu jika dirupiahkan memang tergolng banyak tapi jika dihitung dalam standar Jerman, itu benar-benar pas pas an. Jumlah uang saku ku haanya sedikit lebih banyak dari adik angkatku yang barus saja masuk Gymnasium tahun pertama. Yah namanya uang saku kan memang segitu.

  1. Tidak bebas

Ini bukan maksudnya aku ingin bisa melakukan apapun ya. Tapi lebih karena tinggal sama orang jadi merasa kurang nyaman dan sangat berhati-hati. Tidak bisa memasak dengan bebas karena khawatir jka orang rumah tidak menyukainya, tidak bisa goleran depan TV, sungkan dan lainnya. Memang ya tinggal di rumah sendiri adalah hal yang paling menyenangkan.

Setiap orang memiliki pengalaman masing-masing yang berbeda. Beberapa mungkin merasa selama menjadi Au Pair tidak ada dukanya dan mungkin ada yang merasa tersiksa. Semua tergantung pada GF. Untuk itulah sangat penting mengenali calon GF sebelum memutuskan untuk menjadi Au Pair di keluarga mereka karena selama setahun, kita akan tinggal bersama mereka.

3 tanggapan untuk “Suka Duka Menjadi Au Pair”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s