Story Of my Life

Selamat Jalan Kawan

Aku tidak pernah akrab dengan kawanku yang satu ini, maksudnya kami hanya sebatas saling mengenal tanpa banyak obrolan yang terjadi meskipun kami berada berdekatan. Aku mengenalnya sejak kelas 2 SMP saat aku, dia dan beberapa kawanku yang lain memutuskan untuk bergabung ke dalam ekstrakulikuler (ekskul) bola basket. Diantara kami, dialah yang paling mencolok. Dia berkulit hitam manis dan bertubuh gempal. Meskipun perawakannya seperti itu, dia orang yang baik. Pada awalnya, yang mengajar dan melatih kami adalah salah satu guru pendidikan jasmani di sekolah yang mahir memainkan si gundul ini. Namun, karena ada insiden yang membuat beliau cedera sehingga berhenti mengajari kami.

Sekitar seminggu kemudian pelatih kami diganti dengan 2 orang yang kuperkirakan saat itu adalah mahasiswa karena 2 orang anak SMA yang ikut berlatih bersama kami dan memanggil mereka dengan imbuhan ‘kak’ didepan. Menurutku dan mungkin juga dirasakan oleh kawanku yang lain, latihan kami jauh lebih berat dan menyenangkan dari sebelumnya. Fisik kami benar-benar dilatih, kami di suruh lari mengelilingi lapangan, sprint, jalan kepiting (ini istilahku sendiri karena aku bingung sebutannya apa) dan masih banyak lagi. Setelah beberapa minggu dilatih untunk menguatkan fisik, baru lah beranjak ke tahap berikutnya yaitu men-drible bola, mengoper, lay up, peraturan yang ada dalam permainan bola basket dan hal lainnya yang ada dalam permainan bola basket termasuk posisi pemain. Dia, kawanku yang bertubuh gempal tadi, lebih mahir memainkan bola basket di antara kami karena memang dia sudah akrab dengan si gundul ini dan pelatih kami adalah kakaknya. Berhubung di memiliki tubuh paling besar diantara kami, dia sering ditempatkan di posisi center. Latihan kami berjalan lancar meskipun ada beberapa kendala dan insiden yang terjadi. Namun waktu terus beranjak dan kami memasuki tahun ketiga di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang membuat kami berhenti latihan karena harus mengikuti pelajaran tambahan, persiapan untuk mengikuti Ujian Nasional (UN). Di sekolahku ada peraturan yang menganjurkan bahkan mungkin melarang anak kelas 3 untuk mengikuti ekskul dan foku belajar untuk mengikuti UN.

Setelah lulus SMP aku melanjutkan pendidikanku di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di kotaku. Sebenarnya aku ingin mengikuti ekskul basket mengembangkan apa yang telah kudapatkan saat SMP, tapi karena aku memutuskan untuk menggunakan jilbab sehingga aku mengurungkan niat tersebut. Memang sih tak ada larangan siswa berjilbab untuk mengikuti ekskul olah raga, namun karena aku tidak ingin banyak gerak yang mungkin bisa membuat auratku terlihat maka aku aku tidak mengikutinya. Saat orientasi siswa baru, aku baru tahu bahwa banyak kawan SMP ku yang melanjutkan di SMA yang sama denganku termasuk kawanku yang sering menempati posisi center tadi. Ia dan beberapa kawanku yang mengikuti ekskul basket saat SMP memutuskan untuk tetap mengikuti ekskul ini bersama siswa baru lainnya. Aku dan dia tidak berada di kelas yang sama sehingga kami jarang atau bahkan tidak pernah berkomunikasi secara langsung hanya sebatas bertukar senyum saat tak sengaja berpas-pasan. Banyak hal menarik yang terjadi saat aku SMA, begitupun dengan kawan-kawanku yang lain.

Tak terasa saat ini kami sudah bukan anak SMA lagi. Kami sudah lulus dan melanjutkan perjalanan hidup yang singkat ini. Ada yang memutuskan untuk kerja, ada yang melanjutkan kuliah dan ada yang tidak ku tahu apakah kerja, kuliah atau hanya berdiam diri dirumah. Yang kutahu, kawanku yang sering menempati posisi center tetap bermain basket dan sering mengikuti pertandingan melawan tim lain. Kurasa dia memang serius menekuni dunia per bola basket an. Olah raga ini sudah mengalir di darahnya.

Kemaren, saat aku sedang asik bersama novel yang baca, aku mendapat kabar duka yang mengejutkanku. Dia, kawanku yang sering menempati posisi center meninggal dunia, kembali ke pangkuan Allah setelah mengalami koma beberapa saat. Aku tidak menyangka secepat itu dia pergi. Menurut informasi yang ku peroleh dari kawanku yang masih berada satu kota dengannya karena aku merantau di kota lain untuk kuliah, dia koma setelah mengalami benturan dikepalanya saat terjatuh bertabrakan dengan pemain lawan saat melakukan lay up. Ini adalah tahun ke delapan sejak aku mengenalnya saat SMP. Meskipun kami, aku dan dia tak banyak ngobrol apalagi memiliki kenangan tapi yang jelas aku mengenalnya sebagai salah satu kawanku yang baik dan sering menempati posisi center.

Kejadian ini semakin mengingatkanku tentang kematian yang akan dirasakan setiap makhluk hidup dipermukaan bumi ini, tinggal waktu yang berbicara kapan gilirannya akan tiba. Kematian tidak akan memilih siapa dan sedang apa dia saat dipanggil. Entah dia masih kecil, remaja, ataupun dewasa. Dia sedang belajar, bekerja, dalam perjalanan, berbuat maksiat ataupun berbuat kebaikan. Kematian tidak akan melihat apakah dia, orang yang akan dicabut nyawanya sudah siap atau belum. Oleh karena itu, aku, kamu-kita semua harus siap di panggil kapan pun juga. Kita harus mempersiapkan bekal sedini mungkin karena tidak ada yang bisa membantu saat di alam kubur selain amal perbuatan kita sendiri. Setiap hari, malaikat izrail siap mencabut nyawa kita, hanya tinggal menunggu perintah dari Allah kapan nyawa kita akan diambil.

Buat kamu, kawanku yang sering menempati posisi center, kini usai sudah tunai baktimu di dunia ini. Tak ada lagi yang bisa menolongmu selain dirimu sendiri. Semua urusanmu telah putus saat kamu meninggalkan tubuhmu, hanya ada 3 hal yang tidak akan terputus yaitu amal jariyah, doa anak sholeh dan ilmu yang bermanfaat. Berhubung kamu, kawanku yang sering menempati posisi center belum menikah maka 2 amalanmu yang tidak akan terputus itu amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat. Mungkin kamu lebih dulu dipanggil agar hatimu tak ternodai oleh hal-hal buruk yang ada dikehidupan ini. Selamat jalan, semoga engkau mendapat tempat yang baik disisi Allah. Aku akan mengenangmu sebagai kawan yang baik dan sering menempati posisi center.

Buat aku dan kita semua yang masih diberi kesempatan hidup di dunia ini, hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan yaitu mempersiapkan diri untuk menghadapi giliran kita untuk menghadapi kematian. Kita tidak tahu apakah kita mendapat tempat yang baik apa buruk di sisi Allah. Apakah kita mendapatkan surge atau neraka. Tak ada yang bisa menjamin. Lakukan sebaik-baiknya dan sisanya serahkan pada Allah. Semua keputusan itu adalah hak Allah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s