Cerpen

Hujan Sendiri

Aku pernah mengenal seorang lelaki dengan nama yang teramat panjang. Di generasi kami, nama sepanjang itu adalah sesuatu yang langka. Perkenalan kami tidak spesial dan biasa-biasa saja. Bertemu di organisasi, dia senior, aku junior berinteraksi lalu lalu berteman.

Seiring berjalannya waktu, interaksi kami perlahan berubah. Dia mulai intens menghubungiku. Entah dia yang seperti buku terbuka atau aku yang terlalu peka terhadap apa yang terjadi disekitarku, aku menyadari apa yang sedang tumbuh dihatinya.

Aku tidak menolak tapi tidak juga menerimanya. Aku hanya malu dan tidak tahu harus bersikap seperti apa bersikap seperti apa. Mendapat perlakuan seperti itu untuk pertama kalinya selama 20 tahun aku hidup membuatku mudah sekali terlena. Perasaan perempuan seringnya memang seperti itu.

Pada momen itu setiap ada kesempatan, entah di sela-sela kuliah, waktu liburan atau kegiatan lainpun kami bertemu. Sekedar tegur sapa, makan bareng hingga jalan-jalan. Aku kira masa kuliahku akan berakhir begitu saja, tidak ada kisah cinta di dalamnya. Aku yang awalnya tidak ingin mengaku akhirnya menyerah juga. Mengaku bahwa sedang jatuh cinta bukan sesuatu yang memalukan bukan? Toh bukan yang jatuh cinta duluan.

Perasaanku begitu membuncah. Turun bak hujan yang enggan berhenti namun ia tetap berada dibawah sana. Menikmati  setiap tetesan air yang jatuh, tersenyum sembari menatap langit dan membiarkan tubuhnya basah kuyup oleh hujan. Ia bagaikan seseorang yang sudah lama menanti turunnya hujan.

Tapi entah apa penyebabya, ia mulai merasa hujan itu menganggu. Ia tetap berada dibawah sana namun kali ini payung berada digenggamannya untuk melindungi tubuhnya. Ia tidak ingin lagi basah kuyup. Sepertinya ia mulai kedinginan. Aku yang takut membuatnya sakit bingung harus melalukan apa. Mau berhenti tapi tak bisa. Aku masih terlalu menyukainya. Hujanku ini adalah bentuk rasa yang ingin kuberikan padanya. Aku ingin selalu bersamanya. Hingga suatu hari aku kehilangan arah. Bukannya meredakan hujanku, aku malah membuatnya semakin deras. Dan hari itu dia pergi.

Lelaki yang kusukai itu kini bukan hanya menggunakan payung. Ia memilih meneduh dan lambat laun pergi meninggalkanku seorang diri. Ia pergi ke tempat mahatahri berada, tempat yang bisa menghangatkan dirinya. Dan aku kini menghujani lahan kosong.

8 tanggapan untuk “Hujan Sendiri”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s