Traveling

Prolog 1: Libur telah tiba

“Bulan depan aku libur 2 pekan nih,” kataku suatu hari kepada seorang temanku yang tinggal di kota lain melalui pesan WhatsApp. Aku memberi tahu temanku ini karena dia senang sekali traveling dan mungkin saja waktu libur kami bersamaan sehingga bisa liburan bareng.


“Aku libur mulai tanggal 21 Mei sampai 6 Juni,” balasnya tidak lama kemudian.


“Aku lagi nge plan ke Barcelona. Mba Dina mau kemana?” sambungnya.


“Aku ikut dooong…. Gapapa deh sekali kali liburan jauh. Itu kesempatan terakhir ku main sebelum pulang Indonesia.”


Libur dua pekan ini adalah kesempatan terakhir dan juga waktu libur terakhir hingga masa kontrak kerja ku habis. Setelah kontrak kerjaku berakhir, aku akan langsung kembali ke Indonesia. Sehingga kalau tidak sekarang, tidak ada kesempatan lagi pikirku.


“Mau ikut ke Barcelona? Aku masih nunggu border Barcelona buka, sejauh ini cuma mallorca yg masih buka, sama grand canary island.”


“Mau… Kamu udah biasa backpacking dan pasti nyari yg murah juga,” balasku seketika.


Aku belum punya rencana sama sekali, tidak tahu mau liburan kemana dan memang ingin sekali liburan ke luar negeri tapi dengan budget terbatas. Maklum, sebagai volunteer, aku tidak mendapat uang saku yang banyak. Aku juga belum punya pengalaman untuk liburan ke Luar Negeri sehingga ikut teman adalah cara yang paling aman. Jangan sampai kenekatanku liburan sendiri malah membuatku kesulitan.


Namun rencana itu tak terlaksana. Di masa pandemi seperti ini liburan menjadi sedikit repot. Keluar atau masuk dari sebuah kota/negara diharuskan tes PCR dan untuk tesnya berbayar. Kalau di München, aku tidak perlu bayar karena Bavaria memberikan tes PCR gratis untuk mereka yang tinggal di wilayah Bavaria. Dan ini yang menjadi penyebab ketidak ikutsertaanku dalam rencana liburan temanku. Untuk kembali ke Jerman, kami harus tes PCR di Spanyol dan biaya yang dibutuhkan sekitar 80-100€. Itu mahal sekali untukku. Dan beberapa hari kemudian temanku ini menghubungiku kalau dia juga tidak mengajakku karena dia akan menginap di rumah kenalannya sehingga tidak memungkinkan untuk mengajak orang lain.


Keputusan saat itu adalah aku tidak jadi liburan ke Luar Negeri dan tetap berada di Jerman. Aku tetap liburan, tapi hanya di provinsi tempatku tinggal.


“Tiket ke instanbul murahhhhh, 160€ PP. Ke Barcelona 150€ keatas dari München. Apa ke Istanbul aja ya, ” isi pesan WhatsApp dari temanku beberapa hari kemudian.


Aku langsung tergiur saat mendapat pesan tersebut. Karena Turki adalah salah satu negara yang aku kagumi dengan sejarahnya. Terlebih kota Istanbul. Disana terdapat masjid Hagia Sophia yang menjadi saksi bahwa Sultan Mehmet atau lebih di kenal sebagai Sultan Muhammad Al Fatih berhasil menaklukan Konstantinopel, mewujudkan perkataan Nabi Muhammad SAW ratusan tahun silam.


“Kesana yuk, atau aku sendirian juga gak masalah.”


Temanku masih ragu mau ke Istanbul. Selain sedari awal tujuannya bukan negara ini, ia juga ingin liburan ke tempat yang banyak pantainya. “Tp aku pengen ke pantai.”


Aku, sebagai orang yang tidak terlalu menyukai panas di pantai sudah jelas tidak terlalu tertarik. Setelah itu aku segera mencari tiket menuju Istanbul. Beberapa website menjadi tujuanku untuk mencari tiket murah. Namun tiket murah tak kunjung ketemu. Harga tiket temurah masih menyentuh angka 180an €. Lalu aku mencoba menggunakan aplikasi OMIO. Aplikasi ini serupa dengan Traveloka. Dari sana aku menemukan tiket PP München – Instanbul dengan harga dibawah 120€. Tanpa pikir panjang, aku segera booking tiket pesawat. Namun ternyata, dengan harga segitu, aku tidak mendapatkan jatah bagasi. Sedangkan, aku ingin berada di sana selama kurang lebih satu pekan dan harus ganti baju setiap hari. Di masa pandemi seperti ini, kebersihan adalah hal yang penting. Jangan sampai aku terpapar virus Corona dan tidak bisa kembali ke Jerman. Oleh karena itu aku membeli bagasi 20kg dengan harga 20€. Masih masuk akal harganya.
Tiket pesawat sudah ada, sekarang aku harus mencari penginapan. Aku mencari penginapan temurah namun masih di sekitar Hagia Sophia.

Aplikasi yang aku gunakan adalah booking.com. Disana aku menemukan hotel murah, dengan harga 10€ malam dan lokasinya hanya 600m dari kompleks Hagia Shopia. Aku segera memesan salah satu kamar tersebut. Sebenarnya kalau mau lebih murah, bisa mencari penginapan tipe dorm. Jadi hanya memesan bed saja. Namun lagi-lagi faktor kesehatan harua menjadi pertimbangan. Liburan di masa pandemi seperti ini tidak hanya mempertimbangkan budget tapi juga kesehatan.


Tiket pesawat siap, penginapan beres dan liburan sudah di depan mata. Semoga tidak ada hal yang membuatku harus membatalkan liburan ini.

2 tanggapan untuk “Prolog 1: Libur telah tiba”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s