curhat

Meredup

Mata itu mulai kehilangan cahaya nya sejak beberapa tahun lalu. Tubuhnya pun ikut melemah. Kondisinya tidak sebaik dulu akibat sakit yang di deritanya. Dia, ayahku.

Aku masih ingat beberapa tahun lalu (mungkin sekitar tahun 2008), papah dan mamah (panggilan untuk orangtuaku) membeli kebun kakao di daerah kec. Palolo. Untuk kesana, butuh waktu kurang lebih 2 jam dengan menggunakan sepeda motor. Orangtuaku memutuskan untuk mengelola kebun itu sendiri di sela-sela kesibukan mereka sebagai PNS. Aku masih kecil untuk ikut andil dalam pengelolaan kebun itu, meskipun aku kadang ikut ke kebun. Setiap hari Minggu kami (mamah, papah, kakak didiet, dan aku atau dini-kembaranku) pergi ke kebun untuk memanen buah kakao matang dan hasil kebun lainnya. Sebenarnya yg memanen papah dan kakak, mamah lebih banyak merawat tanaman lain yang sengaja ditanam dan aku tidak usah ditanya, yang ku lakukan hanya berburu buah jambu biji yang juga tumbuh di kebun atau bermain di sungai. Air di sungai itu sangat jernih dan dingin. Sebenarnya berkali kali aku ingin masuk ke sungai tapi berhubung tidak ingin masuk angin maka ku urungkan dan hanya bermain di pinggir saja. Maklum, aku masih kelas 2 SMP.

Terkadang aku juga membantu pas panen kakao. Aku mengumpulkan buah kakao yang berceceran di tanah.
Fisik dan tenaga papah masih prima sehingga sanggup memanen buah kakao di kebun yang luasnya sekitar satu hektar. Biasanya kamu berangkat pukul 05.30 sehingga kakao bisa selesai di panen sebelum ashar. Kakao yg sudah dipanen, dikumpulkan di pondok untuk dibelah dan hanya di ambil isinya saja untuk di bawa pulang serta dijemur. Selain kakao dan jambu biji, di kebun ada beberapa tanaman lainnya seperti kopi, pisang, durian, kelengkeng, jagung, tebu, ubi jalar dan singkong. Meskipun jumlahnya tidak banyak, paling tidak saat pulang kami juga membawa hasil kebun lainnya yang akan di bagikan ke tetangga, kecuali durian dan kelengkeng yang baru ditanam sehingga butuh waktu lama untuk menikmati hasilnya. Kami baru pulang sekitar pukul 5 sore.
Terkadang papah berangkat Sabtu siang dan menginap di pondok karena mau mengerjakan hal lain. Pondok gelap gulita, tidak ada listrik serta lokasi kebun di dekat hutan dan suhu disana rendah membuat kondisi disana menyeramkan untukku. Tapi aku kagum karena papah berani (emang aku yang takut sendirian di kegelapan). Papah memiliki kekuatan fisik yang baik karena harus memanen kakao di kebun yang luas dan memikul mesin paras rumput untuk memamgkas rumput liar yang tumbuh.

Namun tidak sampai 5 tahun kebun kakao itu dikelola, orangtuaku memutuskan untuk menjual nya karena biaya operasional yang tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Kondisi papah juga mulai menurun. Papah diabetes. Gagal di bidang perkebunan, mamah mencoba peruntungan lain melalui pertanian. Mamah membeli beberapa petak sawah yang tanahnya kurang subur dengan harga yang cukup murah. Lagi, papah dan mamah memutuskan untuk mengelola nya sendiri. Setiap sore, papah mengajak ku ke sawah untuk mulai mengelola sawah. Papah memacul sawah, membersihkannya dari rumput dan membuat bedengan. Papah bekerja di bawah teriknya matahari Palu yang super duper panas. Suhu di kota Palu bisa mencapai 33° C. Kami pulang mendekati Maghrib karena jarak rumah dan sawah tidak terlalu jauh. Sekitar 15-20 menit dengan menggunakan sepeda motor.

Namun hal itu tidak berlangsung lama akibat penglihatan papah yang semakin memburuk, sampai pada puncaknya di taun 2013 papah memutuskan pensiun dini. Hal itu disebabkan karena papah tidak lagi mampu mengendarai motor sendiri dan menganggu pekerjaan. Aku tidak tahu persis penyebab memburuk nya penglihatan papah, bisa jadi karena diabetes yang diderita atau juga efek buruk dari rokok. Papah memang seorang perokok berat. Itu juga yang membuat ku tidak mau memiliki pasangan perokok.

Berbagai pengobatan papah jalani, mulai dari medis di berbagai dokter hingga pengobatan alternatif. Namun belum ada satupun yang berhasil hingga pada akhirnya papah menyerah. Semakin kesini, emosi papah semakin sulit di kendalikan seiring dengan bertambah buruknya kondisi penglihatan papah. Dan saat ini papah sudah tidak bisa melihat lagi.

Papah menjadi seorang yang mudah tersinggung dan anti terhadap masukan orang lain. Kemauan papah harus dituruti dan jika ada perbedaan pendapat, harus siap kena marah. Intensitas merokok pun semakin menjadi-jadi. Bisa jadi semua itu akibat depresi dan belum sepenuhnya menerima kondisi diri papah saat ini. Papah mudah marah dan tidak akan mau berbicara kepada siapapun jika kemauannya tidak di turuti. Tidak hanya itu, pendengaran papah juga memburuk sehingga saat berbicara dengan papah, volume suara harus di naikkan. Berat badan papah juga perlahan menurun. Tubuh papah yang dulunya berisi cenderung gemuk, kini ibarat tulang dengan sedikit daging yang terbungkus kulit. Kulit yang dulunya kencang, kini sudah berkeriput. Papah terlihat lebih tua dibandingkan orang tua lain seusianya. Sinar mata papah meredup, seiring dengan meredupnya semangat beliau. Tapi meskipun begitu, sinar beliau tak pernah redup. Tangan dan kaki yang kasar itu adalah bukti keras dan gigihnya perjuangan papah untuk mencari nafkah demi keluarganya.

Pah, aku tahu dibalik kerasnya dirimu selalu ada keinginan untuk menjadikan anak-anak nya maju meskipun terkadang caranya kurang tepat.

Pah, aku tahu dibalik tingginya egomu selalu ada keinginan untuk menjadikan anak-anak nya bahagia

Pah, aku minta maaf karena jarang menelpon karena aku bingung mau membahas apa meskipun aku tahu bahwa papah selalu menanti telpon kami, anak-anaknya hanya untuk sekedar mendengar suara dan memastikan bahwa kami baik-baik saja

Pah, I love you. Always.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s