curhat

Menikah dulu, menikah lagi, menikah terus

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…..

Hai hai, jumpa lagi diblog yang isinya kebanyakan curhatan. Makasih loh ya udah mau mampir dan baca blog ini. Tahun 2019 sebentar lagi berakhir dan timeline orang-orang mulai di penuhi dengan ‘Resolusi tahun 2020’. Tema yang masih populer adalah menikah. Apalagi anak-anak generasi 90, termasuk aku sih salah satunya. Isi timeline media sosial ku dipenuhi dengan orang-orang yang ingin menikah di tahun 2020 dan aku juga sempat membahas hal tersebut sama teman serta saudaraku.

Aku sih masih santai soal ini karena aku tau jodoh, rejeki dan maut itu sudah di atur Allah. Mau menikah besok, minggu depan, bulan depan atau tahun depan itu sudah ketetapan Allah alias Qadha dan setelah itu ada namanya free will alias manusia bisa memilih mau bersikap seperti apa. Aku pernah berpikiran jelek dan jangan ditiru. Beneran deh jangan. Dulu, aku sering berpikir kapan aku akan menikah dan sama siapa sedangkan teman lelaki saja tidak banyak. Lalu siapa yang mau denganku? Wanita sangat biasa yang bukan siapa-siapa dan tidak punya apapun. Aku juga punya teman yang ternyata sepemikiran denganku. Persis. Sama plek. Hahahaha. Usianya setahun diatasku tapi dia udah jadi teman ngerumpi. Tapi yang diceritain kegelisahaan diri sendiri loh, bukan orang lain. Ya tapi kadang masih ceritain orang juga sih. Dia juga mengalami keresahan perihal jodoh dan sudah menempuh berbagai cara tapi belum bertemu dengan lelaki berkuda putih impiannya. Lalu saudaraku pun demikian. Pas kuliah, kami tinggal satu kos dan punya teman-teman kos tempat ngerumpi, ngumpul, minta jajan, bahkan pinjam beras atau peralatan masak. Ah, jadi rindu masa-masa nge kos. Tadi pagi, aku melihat story wa salah satu mba kosku yang isinya adalah foto anak bayinya. Berhubung itu kabar baru, lalu aku mengirim foto tersebut ke Dini. Eh Dini malah mengurutkan satu per satu anak-anak kos yang sudah menikah dan memiliki anak. Dia lagi absen. Hahahaha. Mulai dari situ deh kami membahas pernikahan.

Diantara kami berdua, memang Dini yang lebih merisaukan hal tersebut. Maklum saja sih, dia tinggal bareng mamah dan papah jadi dia yang sering ditanya. Aku hanya bilang padanya bahwa orang yang diingikan menjadi pendamping adalah dia yang agamanya bagus dan ngajinya juga oke, sehingga Allah sedang mempersiapkan lelaki tersebut. Allah juga masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri sehingga sekufu dengan lelaki yang diinginkan. Lagipula, bukankah dengan sendiri, masih di berikan kesempatan Allah untuk berbakti kepada orangtua, berkarya, mengeksplorasi banyak hal sehingga nanti ketika menikah, tidak akan ada kata penyesalan belum sempat mencintai diri sendiri dengan seutuhnya.

Menikah itu bukan persoalan cepat – lambat atau sekedar ikut-ikutan. Dia, orang yang akan menikah denganku adalah orang yang akan membersamaiku hingga ajal memisahkan dan aku ingin kembali membersamainya di surganya Allah. Kalimat yang aku jadikan landasan yaitu menikahlah dengan orang yang diinginkan, bukan orang yang ingin diubah menjadi orang yang diinginkan. Kalimat itu dikatakan oleh Raditya Dika. Aku setuju sama bang Radit karena sesorang tidak akan mungkin berubah kecuali karena keinginannya sendiri. Tapi bukan berarti aku menunda menikah ya. Aku hanya tidak mau terpaku dan uring-uringan. Aku terkadang iri melihat orang lain tapi kembali lagi, iri adalah hal yang sia sia dan siapapun hanya akan menampilkan yang manis-manis nya saja di media sosial. Cara agar tidak iri dengan orang lain yaitu menutup semua celah yang memungkinkan bisa menimbulkan rasa iri. Misalnya tidak mengikuti akun-akun media sosial yang sekiranya bisa memicu atau tidak membaca cerpen yang bikin baper.

Lalu apa resolusiku di tahun 2020?

Pertama, aku belajar istiqomah menghafal Al-Qur’an lagi. Ini bukan hanyak untuk di tahun 2020 sih, tapi mulai detik ini juga semangat menghafal tidak boleh kendor lagi. Lalu aku juga mulai mencari tempat untuk melakukan FSJ yang menerima aku dengan sebagaimana aku saat ini. Selanjutnya aku terus belajar Bahasa Jerman sampai level maksimal yang aku bisa. Belajar,belajar dan belajar. Menikah? Hm tentu saja. Tapi aku mau menikah dengan orang Indonesia aja sehingga ketika ada perbedaan pendapat lebih mudah untuk menyamakannya. Lagipula dengan bahasa yang sama aja terkadang sulit, gimana jika beda Bahasa. Eh tapi jika Allah berkehendak apapun bisa terjadi sih. Yah intinya aku hanya mau melakukan hal-hal terbaik yang bisa aku usahakan dengan ijin Allah.

Jadi, bagaimana denganmu? Apa yang ingin kamu capai?

9 tanggapan untuk “Menikah dulu, menikah lagi, menikah terus”

      1. Magister, Dina. Insyaallah setelah itu pulang lagi. Entahlah, itu rencananya. Lihat nanti angin akan membawa ke mana.
        Oala, semacam pertukaran kebudayaan kah? Kukira, Dina kuliah. Tapi itu hebat sekali, bisa tinggal lama di Jerman. Abang ingin, suatu saat, jalan-jalan sepertimu.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s