Meraih Mimpi

Meraih mimpi : Deutsch ist nicht einfach

Setelah memutuskan untuk ikut Aupair. Langkah selanjutnya yang harus ku lakukan itu adalah mencari tempat les Bahasa Jerman yang sesuai dengan kriteria ku, jumlah jam belajar nya banyak tapi harganya terjangkau (harap maklum, aku tidak berduit banyak). Aku mencari tempat les di kota Malang karena aku berencana setelah resign kerja akan les disana. Berhubung disana ada dini, aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk bayar kosan. Alasan lainnya karena aku sudah jatuh cinta sama kota Malang.

Ada 3 tempat les yang kudapatkan dan meminta Dini untuk mencari info detail ketiga tempat itu karena posisinya aku masih kerja di Bandung. Ketiga tempat ini memiliki keunggulannya masing masing. Pertama di lembaga bahasanya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tempat ini memiliki harga yang paling terjangkau dibandingkan tempat lain. Untuk sampai ke tingkat advance, biaya yang di butuhkan berkisar 2,5 – 3 juta. Tapi kelas aja dimulai jika pesertanya sudah mencapai minimal 6 orang untuk tiap levelnya dan itu butuh waktu lama, menunggu peserta cukup karena yang tertarik belajar bahasa Jerman tidak sebanyak bahasa Inggris. Tempat kedua di English Hut. Nah di tempat ini keunggulannya karena mereka punya pengajar native sehingga bisa lebih cepat paham bagaimana cara pengucapannya dan terbiasa mendengarkan bagaimana cara mereka berbicara. Aku juga bisa bertanya langsung bagaimana kehidupan di Jerman. Tapi jumlah jam belajar yang di berikan sedikit untukku dan juga Dini tidak sempat kesana. Tempat ketiga yaitu di Mayantara School. Biaya yang dibutuhkan untuk les disini lumayan tapi jumlah pertemuannya juga banyak jadi sesuai lah. Jumlah peserta kelas reguler hanya 2-4 orang sehingga lebih efektif. Jika mengambil kelas reguler, kelas akan di mulai jika pesertanya sudah ada minimal 2 orang. Akhirnya aku memilih Mayantara.

Ternyata eh ternyata Dini juga tertarik untuk menjadi Aupair seperti ku. Dan dia memutuskan untuk mendaftar dan les duluan, tanpa menungguku ke Malang. Tapi ada suatu keadaan yang membuat Dini tidak jadi les padahal sudah di bayar sehingga aku yang menggunakan nya karena uang yang sudah di bayarkan tidak bisa diambil kembali.

Terus, pas aku buka Instagram, aku melihat postingan salah satu lembaga les bahasa di pare. Mereka memberikan giveaway berupa diskon 50% dari 2,5 juta untuk satu bulan dengan durasi belajar 4 jam per pertemuan. Tergiur lah aku dan mencoba ikut. Alhamdulillah, aku mendapat kan giveaway itu dan akan kursus periode 10 Desember – 9 Januari. Biaya kursus yang harus ku bayar 1,3 juta lengkap dengan buku yang digunakan untuk belajar. Aku memang sudah pernah belajar bahasa Jerman saat SMA, namun semuanya menguap karena tidak ada yang benar-benar ku pahami. Yang ku ingat hanya kata ‘entschuldigung‘, ‘guten Morgen‘ sama ‘ich liebe dich‘. Bahkan bahasa Jerman masuk ke dalam jajaran pelajaran yang tidak ku sukai (maaf kan saya ya Bu).

Nah selama belajar di Mr. Alex, aku bisa memahami bahasa Jerman dengan lebih mudah ketimbang pada jaman SMA. Meskipun memang aku butuh waktu untuk memahami materi sedikit lebih lama dibandingkan teman les yang lain. Di periode kursus ku ada 7 + 1 (7 orang A1 dan 1 orang A2). Untuk yg A1 ada Mba delima awardee LPDP di Berlin yang les untuk membantunya komunikasi disana, ada nuning dan syam yang kalo duduk sebelahan pas dialog kayak mau berantem saking ngomong nya sama-sama gak mau kalah, ada Weny yang suka ngomong ‘gaura gaura’ ke cermin, terinspirasi dari film K2 katanya. Ada Fauziah yang di panggil ‘pau’ dari Tasik, teman ngobrol pertama ku dan mas Luke yang nama panggilan nya jauh dari nama aslinya, belajar untuk kepentingan kerja. Dan yang A2 ada Yuli, paling muda diantara kami semua tapi udah A2. Dia masih anak SMA kelas 2, umurnya baru 16 tahun!!!!! Kalo disamping dia, aku berasa tua banget. Nah ada Frau Etika, pengajar kami yang super baik dan cara ngajarnya juga mudah dipahami. Bahkan saking baiknya, biar aku banyak nanya tetep sabar menjawab.

Bahasa Jerman itu lebih sulit ketimbang bahasa Inggris karena setiap benda punya artikel alias gender yang berbeda. Meskipun ada cirinya, tapi tidak semuanya berhasil. Intinya harus dihafalkan. Kalo artikel yang membuat tidak muda karena harus di hafalkan. Nah kalo materi yang pas bagian nominative, akkusative dan dativ. Ketiga materi iya membuat ku pusing. Tapi mempelajari sesuatu yang baru itu memang tidak mudah awalnya. Apalagi bahasa yang butuh pembiasaan agar cepat paham. Kalo kata Frau Etika

“Aller Anfang ist shcwer”

Dan aku setuju.

Nah beres les sebulan akan langsung daftar ikut ujian A1 di Goethe Institute yang ada di Surabaya. Aku mau langsung ujian agar segera dapat sertifikat kelulusan dan segera dapat GF. Lagian kalo di tunda nanti aku keburu lupa materinya. Biaya ikut ujian nya mahal untuk ku yaitu sebesar 1,2 juta karena aku bukan les di Goethe Institute dan untuk internal sebesar 1,1 juta. Aku ujian di tanggal 25 Januari 2019. Sebelum ujian, aku banyak mengerjakan latihan soal ujian sebelumnya dan juga berlatih ngomong biar tidak kaku saat berbicara. Ujian ini terbagi jadi 4 bagian yaitu Hören (mendengar), Lesen (membaca), Schreiben (menulis) dan Sprechen (berbicara). Total waktu nya sekitar 80 menit. Hören 20 menit, Lesen 20 menit, Schreiben 25 menit dan Sprechen 15 menit.

Saat hari H ujian, aku gugup dan tidak mau minum banyak karena nanti kebelet. Pas ujian tidak di boleh keluar ruangan dan masuk ruangan hanya boleh membawa alat tulis serta kartu identitas (KTP/Paspor). Ada 16 orang yang ikut ujian. Selesai ujian tulis, kami meninggalkan ruangan untuk menunggu ujian Sprechen. Ada 4 gelombang ujian, dengan 4 orang per gelombang. Didalam ruangan hanya berenam (4 peserta ujian dan 2 orang penguji). Ada 3 bagian, perkenalan, mini dialog. Nah pas bagian mini dialog akan dapat kartu yg berisi kata dan gambar. Aku sudah khawatir kalo pas dapat kata/gambar yang tidak ku tau. Tapi Alhamdulillah Allah sungguh Maha baik, aku dapat yang sudah ku ketahui. Ujian Sprechen berjalan dengan baik. Aku berkenalan dengan 4 orang lain yg juga ikut ujian dengan alasan berbeda. Kami buat grup wa untuk memudahkan komunikasi. Hasil ujian baru bisa diketahui hari senin dengan menelpon ke kantor.

Hari seninnya, Veni infoin ke grup kalo sudah bisa tau hasil ujian. Kayaknya saking banyak nya yang telpon, telponku selalu gagal nyambung. Aku lebih deg deg an ketimbang saat ujian dulu. Setelah lebih dari 10 kali mencoba Alhamdulillah nyambung dan orang Goethe nya bilang aku lulus. Aku langsung sujud syukur. Sertifikat bisa di ambil di hari Jumat. Aku kesana bareng Nofi, yang juga ikut ujian bareng. Aku mendapat skor gut (84 dari 100) dan nilai tertinggi di Sprechen dan Schreiben. Aku akui memang aku lemah di Hören. Aku susah menangkap apa yang dikatakan. Aku senang karena belajarku memberikan hasil yang memuaskan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s