Cerpen

Akhir sebuah kisah

“Allah…” aku melenguh ke sekian kalinya.


Rasanya hatiku sakit sekali. Tanganku masih bergetar memegang undangan yang baru saja di antar oleh tukang Pos.


“Jian & Rangga”


Kenapa saat aku jatuh cinta, hanya pedih yang ku rasakan. Harusnya aku yang ada di posisi itu. Namaku yang seharusnya tertera di undangan itu. Kenapa dia tega sekali padaku.


**
Aku masih menatapnya bingung. Tumben lelaki ini datang kerumah tanpa mengabari sebelumnya. Kami-aku dan Rangga- masih tidak terlibat dalam pembicaraan apapun. Dia terlihat gelisah memainkan jari-jarinya di meja yang terletak dihadapannya.


“Ada apa?” aku sudah tidak bisa menunggu hingga ia membuka suara.
Rangga melenguh tertahan. Perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak. Seperti sesuatu yang buruk akan terjadi.


“Maaf,” kata itu terucap dari bibirnya.


“Untuk apa?” tanyaku bingung.


“Aku tidak bisa memegang janjiku, ” katanya penuh sesal.


Aku tidak bereaksi apapun. Aku sedang berusaha mencerna perkataannya barusan. Suara knalpot kendaraan di jalan membantu mengisi keheningan diantara kami. Aku tahu betul maksudnya. Rangga, lelaki yang sudah 5 tahun menjalin hubungan denganku ingin mengakhiri semuanya. Termasuk mengingkari janji untuk melamarku akhir tahun ini.


“Kenapa? Apakah aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah?” tanyaku menuntut penjelasan dengan air mata tertahan.


Tidak pernah sekalipun aku membayangkan ini. Kami baik-baik saja. Setahuku, tidak ada masalah dalam hubungan kami. Bahkan ketika kami bertikai, aku yang selalu minta maaf.


Lelaki itu menghembuskan nafas berat, “Ibuku tidak menyetujui hubungan kita. Kamu tahu itu.”


“Tapi kamu bilang akan berusaha meyakinkannya. Kenapa tidak sejak dulu kamu bilang padaku? Kenapa setelah 5 tahun bersama kamu baru menyerah? Kenapa?” kali ini air mataku sudah tidak bisa ku bendung lagi.


5 tahun aku membersamainya. 5 tahun aku selalu ada disisinya, mendukung setiap langkahnya dan menjadi satu-satunya orang yang percaya pada mimpinya disaat orang lain meremehkannya.


“Ibuku memintaku menikah dengan wanita pilihannya. Dia adalah anak dari sahabat ibuku. Dia seorang dokter, ” ujarnya mengalihkan pandangan. Ia tidak pernah bisa melihat seorang wanita menangis dan karena itu juga aku jatuh cinta padanya. Tapi sekarang dia lah penyebab tangisku.


Rangga Pamungkas, seorang perwira angkatan udara. Dia teman kelasku saat SMA dulu. Ketika orang-orang dulu meremehkannya dan menyebutnya tidak pantas untuk menjadi perwira, aku yang setia berdiri di sampingnya mendukungnya sebagai seorang sahabat. Dua tahun berturut-turut gagal dalam seleksi, tidak pernah sekalipun aku pergi. Aku bahkan rela melepas kesempatan kuliah di luar kota agar tetap bisa mendukungnya. Hingga ketika dia akhirnya lulus, dia memintaku menjadi kekasihnya.


Aku tahu betul penyebabnya. 1 tahun lalu saat Rangga menjadi kapten staf komando perwira pertama, ibunya mulai tidak setuju dan meminta Rangga memutuskanku. Alasannya karena aku hanya seorang guru honorer di salah satu Sekolah Dasar (SD) swasta dikotaku sehingga tidak pantas bersanding dengannya.


“Aku minta maaf, kamu tahu kan, aku tidak bisa melihat wanita bersedih, apalagi orang itu adalah ibuku sendiri, ” tatapannya masih tertunduk. “Aku—-“.


“Sudahlah. Kamu pulang saja sekarang. Selamat karena telah mengahancurkan aku,” ucapku memotong perkataannya.


Aku menghapus air mataku kasar lalu masuk ke dalam rumah. Membiarkan dia yang masih duduk di kursi teras beberapa saat sebelum pergi melangkah pergi meninggalkan rumahku. Aku masih mengintipnya dari balik gorden jendela rumahku. Tatapannya sendu. Ia juga menangis. Kami berada diposisi yang sama. Bersatu bukan jalan untuk kami. Bersatu maupun berpisah sama menyakitkannya.


“Maafkan aku, Schatz, ” ucapnya lirih tapi aku masih bisa mendengarnya dengan baik.


Dia masih menyebutku dengan sebutan ‘Schatz’. Itu adalah cara yang selalu digunakannya untuk memanggil ku ketika aku marah padanya. Schatz berasal dari bahasa jerman yang artinya sayang.
Satu bulan kemudian undangan pernikahannya datang kerumahku.

Jika ditanya apa aku membencinya? Jelas aku membencinya. Tapi sebenarnya bukan dia yang aku benci, tapi kondisi yang membuat kami tidak bisa bersama.

Ahorn, 5 April 2020

20 tanggapan untuk “Akhir sebuah kisah”

      1. Yaah, kirain berdasarkan pengalaman pribadi. Awalnya mau berguru nih, gimana berdamai dengan luka sampai bisa jadiin cerpen. Fufufuu~

        Suka

      2. Iya. Kite bimbel ama ka akhiru ae. Sepertinya kisah beliao dengan sms pagi harinya cukup masuk hitungan kelam~

        Suka

      1. iya segera bikin hahaha, tp ini cerpen sedikit mirip bg cerita seseorang yg pernah di janjiin nikah dan datang ke pulau sebrang deh hahahahaha

        Suka

      1. Dan komentar jadi panjang tapi tidak nyambung dengan postingan. 🙄
        Ngapunten nggeh mbak dinov. Pamit ah. Pokoke iki gegara ning akhiru~

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s