Cerpen

Lelaki Itu….

Lagi dan lagi, alunan lagu ini terdengar begitu indah ditelingaku. Entah ini sudah berapa kali kuputar, aku tidak ingat lagi. Aku suka lagu ini sama seperti aku menyukai bahkan mencintai lelaki itu. Lelaki dingin itu. Lelaki yang ku kenal sejak 2 tahun lalu. Lelaki itu benar-benar berhasil menjatuhkanku, memasuki hatiku tanpa izin. Lelaki yang merebut seluruh perhatianku. Kenangan itu kembali berputar lambat dibenakku bak rol film lama yang sudah usang. Air mataku jatuh begitu saja.

***

“Apa kamu tidak lelah????” tanyanya saat aku berjalan tepat dibelakangnya. Berjalan dibelakangnya menjadi salah satu aktivitas wajibku 1,5 tahun belakangan ini sejak aku dan dia menjadi Mahasiswa Baru.

“Maksud kamu??” tanyaku tak mengerti.

“Apakah kamu tidak lelah selalu mengikutiku??”tanyanya kembali.

“Kamu tau kan aku menyukaimu?? Aku tidak akan lelah sampai kamu membalas perasaanku” lirihku

“Tapi kamu kan tau kalau aku tidak punya perasaan apapun padamu. Tolong lakukan hal lain yang lebih berguna, jangan seperti ini” ujarnya yang membuatku hampir menitikkan air mata.

“Aku…..” kataku tertahan.

“Tolong mengerti, aku tidak ingin menjadi orang yang jahat dimata orang lain akibat perbuatanmu ini” ucapannya sukses menjatuhkanku.

Ia pergi begitu saja meninggalkanku . Kakiku lemas, hatiku remuk, duniaku runtuh sudah. Aku tak tahu apakah aku masih bisa menjalani kehidupanku seperti biasa. Aku sudah terbiasa. Terbiasa melihatnya, terbiasa berada didekatnya, terbiasa menghirup aroma parfumnya yang memabukkanku, terbiasa menjadi banyangannya. Ia sudah seperti candu untukku, seperti oksigen yang kuhirup, seperti sebelah sayap yang berada dipunggungku. Bagaimana bisa aku hidup tanpa oksigenku?? Bagaimana bisa aku terbang tanpa sebelah sayapku??

***

“Apakah kamu bahagia hum???” gumamku ketika ia melangkah bersama seseorang.

Sudah 1,5 tahun berlalu sejak kejadian itu. Aku selalu berada disini, melihatnya dari kejauhan. Hanya dengan melihatnya sudah cukup untukku. Melihatnya untuk bernafas karena dia adalah oksigenku.

Senyumya mengambang, tawanya begitu lepas bersama gadis itu. Ya gadis yang telah merebut seluruh perhatiannya ke hal lain termasuk diriku. Gadis itu sempurna jika dibandingkan denganku. Sejak awal aku memang hanya bayangan untuknya, yang selalu mengiringi setiap langkahnya. Bayangan yang tak pernah dilirik. Bayangan yang tak pernah tampak.

Aku menyeka air mataku kasar. Tak sepantasnya aku menangisinya lagi. Sudah cukup air mata yang kubuang untuknya selama ini. Tapi bagaimana aku bisa bernafas tanpanya?

“Risa cukup. Jangan seperti ini terus. Kamu punya kehidupan yang harus kamu jalani” ucap seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakangku.

“Tapi Nis, kamu kan tahu sendiri dia itu oksigenku dan sebelah sayapku ada padanya” lirihku.

“Kamu tidak memerlukan sayap untuk berjalan kan??” Tanya Nisa. Nisa adalah sahabatku sejak SMA. Ia satu-satunya orang selain Kakak dan Mamah yang memahami diriku.

“Fokus pada skiripsimu, bukannya kamu bilang mau lulus cepet??” Nisa mengingatkan.

“Tapi……” Aku masih belum bisa tanpanya.

Aku tak melanjutkan perkataanku. Aku yakin, Nisa pasti mengerti maksudku.

***

Selama 6 bulan ini aku mencoba fokus pada skripsiku. Hanya sesekali saat rinduku sudah tak dapat dibendung lagi, aku datang padanya. Bukan untuk menemuinya, tapi hanya untuk melihatnya. Mengambil oksigenku sebanyak-banyaknya untuk pasokan. Menghilangkan tumpukan rindu yang ada. Aku memandangi wajahnya lekat-lekat. Begitu sempurna berkah Allah untuknya. Pahatan-pahatan sempurna diwajahnya membuatku tak bisa berhenti memandangnya.

Setelah merasa cukup aku segera beranjak pergi meninggalkan tempat ini.

“Aduh……” ringisku tiba-tiba saat menabrak seseorang.

“Maafkan aku, aku tidak sengaja” gadis yang kutabrak mengulurkan tangannya dan membantuku berdiri.

“Ah aku yang salah, tidak liat-liat” ujarku menyesal.

“Aku Dinda” gadis itu mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. Aku tahu, Dinda Ayu Lestari. Gadis manis yang merebut perhatian Lelaki dingin itu.

Aku hanya bisa senyum-terpaksa dan menyambut uluran tangannya.

“Aku Risa. Arisa Puspita Sari” aku memperkenalkan diriku.

“Maaf ya, aku tadi tidak sengaja. Aku duluan ya…..” lanjutku. Aku tidak bisa berlama-lama disini, aku tidak ingin Derry tahu kalau aku ada disini.

“Oh tidak apa-apa, senang berkenalan denganmu” ujarnya kemudian.

Aku pergi melangkah secepat mungkin pergi dari tempat ini. Samar-samar aku sempat mendengar Derry menghawatirkan Dinda yang mungkin telat datang. Aku iri, aku ingin berada diposisi itu. Tapi apa daya, aku bukanlah siapa-siapa untuknya.

Aku langsung pulang kerumah. Hari ini benar-benar melelahkan untukku.

***

Saat yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah melewati proses yang cukup panjang dan melelahkan, hari ini bersama 999 orang lainnya, aku mengikuti wisuda sebagai tanda bahwa kami telah menyelesaikan masa studi kami di perguruan tinggi ini. Masa-masa yang memberikanku banyak pelajaran dan pengalaman baru yang tidak kudapat di tempat lain. Masa dimana aku tahu merasakan jatuh cinta dan patah hati. Masa-masa itu tidak akan pernah bisa kulupakan sepanjang hidupku.

Aku tidak bisa menahan haru saat aku dipanggil maju kedepan sebagai salah satu wisudawati terbaik se-fakultas. Begitu juga dengan kedua orang tua dan kakakku. Aku melihat mereka tersenyum bahagia saat aku naik ke panggung, tempat 9 orang wisudawan dan wisudawati terbaik lainnya. Derry, lelaki dinginku juga berada disini bersamaku. Ia juga salah satu wisudawan terbaik. Ya, dia memang seorang yang jenius jadi wajar saja ia ada disini. Lebih hebatnya lagi, ia menjadi wisudawan terbaik se-universitas. Aku dan dia berada dijurusan yang berbeda. Aku turut bahagia untuknya. Pelan-pelan aku belajar melupakannya, aku belajar hidup tanpanya.

Setelah proses wisuda selesai, banyak teman-temanku yang memberi bunga atau hanya sekedar memberikan ucapan selamat. Diangkatanku, yang mengikuti wisuda hanya 15 orang dan aku beruntung bisa menjadi salah satu diantara mereka.

“Risa…….” Suara cempreng sahabatku terdengar cukup jelas padahal ia masih berada jauh didepanku. Sahabatku yang satu itu memang bersuara keras dan cempreng. Dari kejauhan ia melambaikan tangannya padaku sembari berlari. Aku tak habis pikir, memangnya harus berlari? Padahal aku tidak akan kabur kemana pun.

“Risa akhirnya kamu wisuda juga. Aku bahagia sekali. Eh iya ini aku bawain bunga buatmu” ujarnya ketika sampai tepat dihadapanku sembari menyodokan sebucket bunga mawar.

“Wah makasih ya….. kapan nih kamu nyusul??” tanyaku. Nisa belum menyelesaikan skripsinya.

“Doain aja, periode berikutnya aku bakalan nyusul kok” jawabnya.

Dari kejauhan, aku melihat Derry bersama orang tuanya dan Dinda. Orang tuanya pasti sangat bangga kepadanya. Mereka tampak akrab, Dinda dan Orang tua Derry. Tidak lama kemudian, aku melihat Derry berjalan menuju kearahku. Entah benar atau tidak, aku merasa seperti itu.

“Selamat ya…..” Derry mengulurkan tangannya kepadaku.

“Eh iya, kamu juga selamat ya…..” ujarku menyambut uluran tangannya.

“Aku minta maaf kalo selama ini aku udah keterlaluan sama kamu” katanya dengan nada menyesal. Aku tahu dia tulus. Aku bisa lihat itu dari raut wajahnya.

“Aku udah lama maafin kamu kok” balasku tulus. Aku sudah memaafkanmu. Aku tidak bisa benar-benar marah padamu. Apakah kamu tahu, saat ini aku benar-benar bahagia karena bisa berbicara langsung denganmu, bisa melihatmu dari jarak sedekat ini.

“Oh iya, aku mau memberikamu ini” ia menyodorkan sebuah undangan yang dibawanya.

“Undangan apa ini?” tanyaku penasaran.

“Itu undangan pertunanganku dengan Dinda. Kamu udah kenal dengannya bukan? Ia pernah bilang padaku bahwa kalian saling mengenal” ucapannya sukses membuatku hancur.

Bagaikan petir yang menyambar, perkataannya tadi sukses membuatku nyaris terjatuh jika ia tidak ada dihadapanku. Lututku rasanya lemas dan tak mampu menopang tubuhku lagi. Tapi aku tidak mungkin menunjukan kehancuranku dihadapannya. Ternyata aku belum bisa lepas darinya.

“Risa, kamu tidak apa-apa?” tanyanya mengagetkanku.

“Ah iya maaf, aku tidak apa-apa” jawabku berusaha tegar.

“Loh Ris, kamu nangis??” tanyanya lagi.

“Ah tidak, aku cuma kelilipan saja” jawabku. Ah, air mata ini kenapa tidak bisa diajak kerja sama. Ia mendesak keluar. Aku harus menahannya. Nisa yang berdiri dibelakangku menepuk pundakku. Aku tahu arti tepukannya, ia berusaha menguatkanku. Segitu malangnya kah aku?

Dinda datang menghampiri kami.

“Eh Risa, ternyata kamu juga wisuda hari ini. Selamat ya….” Ujarnya sembari megulurkan tangannya.

“Iya, terima kasih” aku menyambut uluran tangannya.

“Sayang kita harus pergi sekarang. Orang tua kamu udah nunggu dimobil tuh” ajaknya ke Derry.

“Iya” ucap Derry mengiyakan.

“kalo begitu kami pamit dulu ya, jangan lupa datang keacara kami” ujar Derry kepadaku.

“Insya Allah” kataku sebelum ia beranjak pergi.

Aku tersenyum miris dengan ini semua. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan sekaligus hari yang menyakitkan untukku. Bagaimana bisa ini terjadi? Air mata yang dari tadi berdesakkan tak dapat lagi kutahan. Mereka mengalir begitu saja. Nisa berusaha menguatkanku, tapi ini benar-benar menyakitkan. Aku tak sanggup berdiri rasanya. Aku ingin segera pulang. Aku lelah.

***

Setelah lulus, aku langsung bekerja disalah satu perusahaan swasta yang ada di kotaku. Ada beberapa perusahaan yang menawarkanku pekerjaan, tapi aku memilih yang berada dikotaku sehingga aku tidak perlu meninggalkan kedua orang tuaku. Kakakku sudah menikah dan ikut suaminya keluar kota sehingga hanya akulah yang bisa menjaga mereka. Sebenarnya, orang tuaku mengizinkan aku untuk bekerja di luar kota tapi aku tidak tega meninggalkan orang tuaku.

Sudah banyak teman-temanku yang menikah bahkan sudah memiliki anak tapi sampai saat ini aku belum menikah, aku masih sendiri. Padahal usiaku sudah seperempat abad. Usiaku sudah sangat matang untuk menikah tapi aku belum bisa jatuh cinta lagi. Ada bebarapa rekan kerja laki-laki yang mencoba mendekatiku. Tapi mungkin karena aku nya yang cuek kepada mereka membuat mereka menyerah. Nisa, sahabatku pun sudah menikah dan memiliki satu anak. Saat ini ia tinggal di luar kota mengikuti suaminya. Meskipun begitu, aku dan dia masih berhubungan baik. Terkadang aku iri melihat teman-temanku yang sudah menikah. Orang tuaku sudah sering bertanya kapan aku menikah. Bagaimana mau menikah, calon saja tidak ada. Toh, jodoh sudah ada yang atur. Tulang rusuk seseorang tidak mungkin tetukar.

“Kapan kamu akan mengenalkan calon suamimu kepada kami??” Tanya Ibuku saat kami makan malam.

“Aku belum punya bu,” jawabku.

“Terus kapan kamu akan menikah??” kali ini ayahku yang angkat bicara.

“Ya kalo udah ketemu sama jodohku” jawabku lagi.

“Ibu sudah tambah tua ndo, ibu ingin segera menimang cucu. Kan kamu sendiri tau, kakakmu yang sudah menikah belum dikaruniai anak” ibuku menambahkan.

Lisa, kakak yang terpaut 3 tahun diatasku sudah menikah dengan seorang dokter 2 tahun lalu. Hingga saat ini ia belum menunjukan tanda-tanda bahwa ia mengandung seorang bayi. Mungkin karena kesibukan mereka yang memang sama-sama berprofesi sebagai dokter lah yang membuat hal itu terjadi atau Allah merasa mereka belum bisa diberikan amanah tersebut. Entahlah.

“Iya bu, aku tahu. Tapi mau bagaimana lagi. Ini semua kan bukan kehendekakku, Allah sudah mengatur semuanya bu” ujarku menenangkan ibu.

“Banyak orang yang bertanya kepada ibu mengapa kamu belum menikah” sambung ibu.

“Ya sudah kalau begitu, ibu dan ayah saja yang mencarikan aku jodoh. Aku yakin kalian akan memilihkan yang terbaik untukku” ujarku kemudian. Aku sudah pasrah. Meskipun nanti saat aku menikah aku belum mencintainya, aku yakin suatu saat nanti aku akan mencintainya. Orang bisa karena biasa.

“Baiklah” kata ayahku mengakhiri pembicaraan ini.

Setelah selesai makan dan membersihkan meja makan, aku menuju kamar. Aku hanya bisaa berdoa agar diberikan yang terbaik oleh Allah.

***

“Risa, kami ingin mengatakan sesuatu” ujar ayahku saat aku sedang membersihkan rumah.

“Ada apa ayah??” Tanyaku penasaran.

“Kami sudah menemukan calon untukmu, besok ia dan keluarganya akan datang melamarmu” jawab ibuku yang membuatku cukup terkejut.

“Ah iya bu, aku mengerti” kataku.

Aku yakin calon yang dicarikan ayah dan ibuku adalah yang terbaik. Orang tua akan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Aku hanya berharap ia rupawan dan baik hati. Berharap sedikit tidak masalah bukan?

***

Hari ini aku bangun lebih cepat dari biasanya. Pagi-pagi sekali, ibu mengajakku berbelanja dipasar untuk memasak hidangan untuk para tamu nanti. Tampaknya ibu benar-benar bahagia. Wajahnya tak lepas dari senyuman. Aku bahagia jika ibuku bahagia. Ibu nampaknya tak ada capeknya, padahal belanjaan ditangan sudah banyak ditambah lagi kakiku yang sudah benar-benar lelah. Ibu masih saja mengajak berkeliling jika saja ayah tidak menelpon. Ayah memang penolongku.

Semua hidangan sudah siap ditata rapi di meja makan, aku bergegas mandi dan bersiap-siap. Ini sudah puku 17.30, kata ibu mereka akan datang jam 6 sore selesai maghrib. Aku tidak bisa bilang kalau aku tidak gugup. Sejak tadi, perasaanku campur aduk antara gugup, gelisah, dan penasaran. Semoga saja ia sesuai harapanku.

“Risa, mereka sudah datang” ibu masuk kekamarku.

“Subhanallah, kamu cantik sekali” sambung ibu. Aku melihat pantulan diriku dicermin. Aku memakai pakaian yang sederhana tapi tetap terlihat anggun. Aku memilih dress berwarna pink lembut dengan hiasan pita dibagian pinggang dan hijab berwarna senada. Aku memakai hijab sejak lulus kuliah 4 tahun lalu.

“Ah ibu bisa saja” kataku menanggapi.

“Ayo kita keluar, yang lain sudah menunggu” ibu mengajakku keluar.

Aku deg-degan. Aku melihat sepasang suami istri paruh baya yang sepertinya orang tua dari calon ku sedang asyik mengobrol dengan ayahku. Sepertinya aku pernah melihat mereka, tapi aku lupa dimana. Disisi lain ada seorang pria memakai kemeja berwarna biru laut. Mungkin ia yang akan menjadi calonku.

“Maaf membuat kalian menunggu” kata ibuku yang membuat mereka semua termasuk ayahku menoleh ke arah ku dan ibu.

Sontak aku terkejut-sangat terkejut melihat Derry dengan senyuman yang mengambang. Apakah ia benar-benar Derry atau ini hanya mimpiku??

“Ah tidak apa-apa” kata ibu paruh baya yang tadi.

“Kamu cantik sekali” sambungnya yang ditujukan untukku.

“Terima kasih” balasku. Aku ingat sekarang, mereka orang yang mengobrol dengan Dinda yang pernah ku lihat saat wisuda dulu.

Aku dan ibuku duduk bergabung bersama yang lainnya. Aku tidak memperhatikan apa yang sedang mereka bicarakan. Aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Banyak yang ingin kutanyakan saat ini. Semua ini benar-benar membuatku bingung.

“Kalian akan menikah 2 minggu lagi, bagaimana???” Tanya ayahku.

“Aku sih terserah ibu dan bapak saja” jawab Derry.

“Bagaimana denganmu Ris?” Tanya ayah kepadaku.

“Maaf kenapa pak?” tanyaku kembali. Aku tidak memperhatikan pertanyaan apa yang mereka bicarakan.

“Kalian akan menikah 2 minggu lagi, bagaimana?” ulang ayah.

“Aku nurut saja yah” jawabku.

***

Hari yang paling kutunggu akhirnya tiba. Pernikahan kami dilakukan dengan cukup sederhana. Ijab Kabul dilakukan dimasjid didekat rumahku dan resepsi pernikahannya dilakukan dengan menyewa sebuah gedung agar tidak ribet. Lisa kakakku, datang untuk menghadiri pernikahannku. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan. Bukan hanya karena pernikahanku, tapi juga karena kak Lisa juga sedang hamil 3 bulan.

Para tamu undangan resepsi pernikahanku cukup banyak. Aku melihat Dinda berdiri berdampingan dengan seorang pria yang bisa dikatakan rupawan. Pria itu menggendong seorang anak perempuan yang kutaksir usianya baru 2 tahun. Apakah mungkin itu anaknya?

Nisa, sahabatku datang bersama suami dan anaknya. Tapi nampaknya ia akan segera memiliki anak lagi. Terlihat dari perutnya yang tampat besar. Ia datang menghampiriku.

“Risa selamat ya…….” Ucapnya tulus sembari memelukku. Aku tahu ia bahagia untukku.

“Makasih ya udah datang…..” balasku.

“Kamu masih punya utang cerita sama aku masalah ini” bisik nisa menagih. Emang sih aku belum sempat menceritakan hal ini. Aku hanya bisa tersenyum.

“Tolong jagain sahabatku ya” pesan Nisa kepada Derry.

Tak terasa acara sudah selesai, para tamu undangan mulai pergi meninggalkan gedung ini. Begitupun dengan Nisa dan Dinda. Badanku terasa remuk. Sangat lelah. Aku dan Derry ‘suamiku’ pulang kerumah. Malam ini aku tinggal dirumah orang tua Derry.

Saat ini aku dan Derry berada didalam kamar. Aku gugup. Aku tak tahu harus berbuat apa. Yang kulakukan hanya duduk ditepi ranjang.

“Mandi dulu sana, aku tahu kamu capek” ujarnya.

“Ah iya” setelah mendengar ucapannya, aku segera masuk kekamar mandi dan mandi. Setelah mandi, rasa lelah sedikit berkurang.

Setelah aku mandi, Derry segera masuk kekamar mandi.

Aku gugup, aku belum terbiasa dengan hal ini, aku bingung harus berbuat apa saat ini, aku hanya duduk diam. Begitu pun dengan Derry, ia juga terlihat gugup.

“Terima kasih ya…..” ucapannya tiba-tiba.

“Buat apa?” Tanyaku tak mengerti.

“Terima kasih karena mau menjadi istriku” perkataanya membuatku bersemu merah.

“Oh iya, aku boleh bertanya sesuatu?” aku ingin menemukan jawaban dari semua pertanyaanku.

“Tentu saja” balasnya.

“Kenapa semua ini bisa terjadi? Aku bingung. Bukankah kamu dulu sudah bertunangan dengan Dinda?” tanyaku.

Ia menceritakan semuanya. Tentang perasaannya, masalah pertunangannya, dan lamarannya untukku. Banyak hal yang ia ceritakan padaku, saking banyaknya, aku tidak mengingat apa yang dikatakannya barusan. Yang ku ingat hanyalah dulu ia memang bertunangan dengan Dinda, tapi 2 bulan kemudian pertunangannya batal karena ia merasa tak cocok dengan Dinda. Orang tuaku dan orang tua Derry ternyata bersahabat dan kebetulan baik aku maupun Derry belum menikah jadi kedua pasang orang tua tersebut menjodohkan kami.

“Enaknya aku manggil kamu apa ya??” Tanyaku ke Derry.

“Derry saja, kita kan seumuran” jawab Derry.

“Tapi sekarang kamu sudah menjadi imamku dan aku adalah makmummu, gak enak aja. Gimana kalo Abi??” Tanya Risa memberi usulan.

“Ya boleh juga, terus aku manggil kamu gimana??” Tanya Derry kepadaku.

“Umi saja” jawabku.

“Baiklah. Abi dan Umi, kedengarannya bagus” lanjut Derry.

“Abi, makasih ya udah mempercayaiku menjadi ibu untuk anak-anakmu kelak. Tolong bantu aku untuk menjadi Istri dan Ibu yang sholeha. Bimbing aku menuju Surga Allah, tegur aku jika aku salah, ingatkan aku jika aku mulai lalai. Insya Allah aku akan melakukan yang terbaik. ” ujarku tulus.

“Iya Umi. Aku juga terima kasih untuk kepercayaaan yang umi berikan. Insya Allah, aku juga minta bantuan kamu untuk menjadi imam yang baik” balasnya kemudian.

Matanya yang teduh memandangku dengan penuh rasa sayang. Aku sangat bahagia bersamanya. Aku sangat bersyukur bisa disatukan dengan orang yang kucintai. Semoga keluarga kecil kami bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Amin……………

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s