Story Of my Life

Kehidupanku di Jerman selama ada Virus Corona

Untuk mencegah virus corona, sudah hampir sebulan di Jerman diberlakukan karantina wilayah dan pembatasan aktivitas. Syukurlah aku masih waras.

Siapa sih yang tidak was was dengan kondisi dunia saat ini? Apalagi bagi yang tinggal di negara dengan kasus Covid yang sangat banyak. Saya sekarang tinggal di Jerman sebagai Au Pair, Jerman sendiri jadi negara yang menduduki kasus terbesar kelima di dunia setelah Amerika, Spanyol, Italia dan Perancis.

Sudah satu bulan sejak kebijakan social distancing dan pembatasan aktivitas di luar rumah oleh Pemerintah Jerman, kasus Covid-19 sudah menyentuh angka 159.912 per tanggal 29 April 2020. Kasus Covid-19 teridentifikasi pertama kali di Jerman tanggal 27 Januari lalu pada seorang pria di kota Stanberg, 30 kilometer barat daya Munich, Bavaria.

Seperti yang kita ketahui, virus ini bermula Wuhan, salah satu kota di China. Kasus Covid 19 kemudian semakin meningkat di awal maret dan terus bertambah hingga hari ini. Aku tinggal di Coburg, kota kecil di negara bagian Bavaria yang memiliki kasus paling banyak di Jerman yaitu sebanyak 41.830 kasus per 29 April 2020.Di Jerman sendiri, peningkatan kasus Covid-19 mulai signifikan terjadi di minggu kedua bulan maret. Langkah yang diambil pemerintah untuk mencegah tersebarnya virus ini dengan menutup semua sekolah, taman bermain, toko-toko (selain supermarket dan apotek), restaurant, serta kantor publik selama 5 minggu terhitung sejak tanggal 16 maret 2020.

Hal ini tentu saja berimbas kepada banyak orang, termasuk orang-orang Indonesia yang masa izin tinggalnya sudah hampir habis. Contohnya, salah satu temanku yang tinggal di Munich. Dia sudah membeli tiket pulang ke Indonesia untuk akhir maret beberapa bulan sebelum keberangkatan. Namun akibat situasi seperti saat ini, maskapai penerbangan membatalkannya hingga kondisi membaik. Sehingga pihak imigrasi memperpanjang izin tinggalnya hingga 2 bulan kedepan.

Sedikit cerita, setelah pengumuman penutupan ruang publik yang sudah aku sebutkan di atas, pemerintah belum mengeluarkan kebijakan untuk tidak keluar rumah sama sekali. Tanggal 19 Maret, aku mencoba keluar rumah untuk melihat bagaimana kondisi kota dan pergi ke supermarket. Aku selalu berpergian naik bus. Bus disini sama seperti busway di Jakarta yang memiliki 2 pintu. Hanya saja disini, pintu depan digunakan sebagai tempat masuk dan pintu belakang untuk keluar. Namun saat itu saya harus masuk dan keluar lewat pintu belakang. Interaksi dengan pengemudi sudah ditiadakan, bahkan penumpang sudah tidak bisa membeli tiket langsung kepada pengemudi. Hal ini dilakukan untuk melindungi pengemudi dari kemungkinan terpapar virus.

Setibanya di supermarket, stok barang yang terlihat nyaris kosong adalah makanan beku dan tissue toilet. Orang-orang membeli barang yang bisa disimpan dan ditimbun untuk jangka waktu yang lama. Orang Indonesia yang disini sih tidak masalah kehabisan tissue karena kita menggunakan air untuk keperluan buang hajat. Hehehehe.Di beberapa sudut supermarket terpajang himbauan untuk tetap berjarak satu sama lain minimal 1,5 m. Setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan, aku langsung menuju kasir. Tempat antrian dikasir, sudah diberi tanda yang berjarak 1, 5 meter dan tidak menerima pembayaran secara tunai. Hal ini dikarenakan uang kertas adalah salah satu media penyebaran virus yang paling luas. Pembayaran hanya bisa dilakukan menggunakan kartu debit atau kartu kredit. Aku langsung memutuskan untuk pulang ke rumah setelah dari Supermarket.

Di hari yang sama, di malam hari, pemerintah mengumumkan karantina wilayah secara luas. Tidak ada yang bisa masuk dan keluar kota. Bus dan kereta antar kota sudah berhenti beroperasi per tanggal 19 Maret 2020 tengah malam. Aku langsung sedikit panik karena aku memiliki jadwal wawancara di Munich dan sudah terlanjur membeli tiket. Keesokan harinya aku langsung menghubungi träger yang memanggilku wawancara dan meminta penundaan hingga kondisi membaik.

Selain karantina wilayah, pemerintah resmi membatasi segala aktivitas di luar rumah. Aku adalah tipe ‘anak rumahan’ yang jarang keluar apalagi sangat jarang kumpul-kumpul dengan banyak orang sehingga kebijakan social distancing tidak begitu memberatkan. Tapi meskipun begitu, aku juga butuh keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan menghirup udara segar. Beruntung pemerintah masih mengizinkan keluar rumah selama tidak berkelompok lebih dari 2 orang kecuali keluarga dan tetap memberi jarak dengan orang lain.Saat keluar rumah juga wajib membawa identitas diri baik paspor atau aufenhaltstitel. Bagi siapa saja yang melanggar, harus siap menerima konsekuensinya yaitu di denda hingga maksimal 25.000 euro atau dipenjara. Ada seorang lelaki yang tinggal di Bamberg dipenjara akibat membuat party dirumahnya.

Alhamdulillah, satu bulan lebih tidak beraktivitas seperti sebelumnya masih membuatku waras. Bagiku sendiri, dampak yang paling memberatkan sebenarnya bukan tidak bisa keluar rumah tapi akan berpengaruh pada rencana setelah program Au Pair berakhir.Visaku akan berakhir di minggu pertama bulan Agustus dan rencananya ingin mengikuti program Freiwilliges Soziales Jahr (FSJ). Kelihatannya memang masih lumayan lama dan masih punya waktu 3 bulan sebelum visa saya berakhir. Tapi kan aku butuh waktu mencari tempat yang cocok dan wawancara untuk melakukan program FSJ. Sedangkan saat ini hampir semua lembaga tutup hingga waktu yang belum pasti. Sebenarnya aku sudah memiliki jadwal untuk wawancara dan magang di salah satu sekolah sejak bulan lalu. Namun akibat kondisi yang tidak memungkinan, semuanya diundur hingga waktu yang belum pasti.

Hampir setiap hari aku mengecek perkembangan kasus ini dan sudah mulai bisa dikendalikan. Jumlah kasus memang masih bertambah setiap hari, namun pola pertambahan kasusnya sudah mulai menurun.Tidak ada negara yang siap dengan kondisi ini. Sekalipun itu negara maju.

5 negara dengan kasus Covid-19 terbanyak, semuanya adalah negara maju yang memiliki fasilitas kesehatan baik. Hanya saja, perilaku masyarakatnya sangat mempengaruhi penyebaran virus ini. Di Italia misalnya, jumlah faslitas kesehatan tidak bisa menampung semua pasien sehingga dokter harus memilih siapa yang akan diselamatkan. Sehingga kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan, kebersihan serta menerapkan social distancing menjadi satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Saya berharap seluruh dunia segera bisa mengatasi dan pulih seperti sedia kala.

7 tanggapan untuk “Kehidupanku di Jerman selama ada Virus Corona”

  1. Orang sana cebok emng gk pake air, ka? Tisuan doang gitu? 🥴
    Bentar, dari sekian banyak hal yg berfaedah di post ini kenapa malah nanya soal ginian ya ampuuun. Dasar gw, heuu~

    Suka

      1. Ya gk gitu juga maennyaa😭
        Soalnya di wc mesir ada tisu, tapi ya buat keringin sisa2 air doang. Jadi ceboknya mah tetep pake air.

        Suka

  2. Tetap semangat ya apapun yg terjadi
    Semuanya sdh kehendak Alloh SWT
    Smoga kita semua slalu dalam lindungan NYA, amin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s