Traveling

Galata Tower


Metro yang aku tumpangi berhenti di stasiun Karaköy İstasyonu setelah melewati 3 pemberhentian dan menyeberangi teluk Tanduk Emas (Golden Horn). Hari ini, aku ingin mengunjungi menara Galata yang merupakan salah satu Landmark kota Istanbul. Dari menara ini juga para pengunjung bisa menikmati keindahan kota dari ketinggian.


Dari halte metro, aku masih harus berjalan kaki sekitar 550 meter untuk tiba di tempat tujuanku. Awalnya aku kira akan mudah karena jaraknya tidak terlalu jauh dan aku menggunakan google maps sebagai panduan. Tapi ternyata tidak semudah itu. Memang benar jaraknya tidak jauh tapi medan yang menanjak menjadi tantangan tersendiri. Tarikan nafasku mulai pendek dan sering. Jalanan yang semakin menanjak cukup membuatku kesulitan. Ditambah lagi tas punggung yang cukup berat masih setia berada dipunggungku. Isinya cukup beragam, ada makanan kucing, air minum, tripod, buku catatan, dompet dan cemilan. Tidak banyak tapi jika dibawa dalam jangka waktu yang cukup lama berjalan kaki dan medan seperti ini membuat pundakku pegal.

This is the view ❤️❤️❤️

Berkali-kali aku berhenti untuk sekedar merilekskan pundak dan kembali menstabilkan nafasku. Tidak hanya aku yang merasakannya, beberapa turis juga terlihat cukup kesulitan. Walaupun kesulitan, aku menikmati perjalanan itu.

Kota Istanbul


Ruko-ruko dengan aneka toko dan kedai makanan berdiri di sepanjang jalan menuju kesana. Seketika aku teringat kota-kota besar di Indonesia. Menurutku kondisi jalan yang macet, pengendara dan penyeberang yang tidak sabaran serta mobil yang parkir di pinggir jalan cukup mirip dengan Indonesia. Hanya saja disini tidak ada tukang parkir yang tiba-tiba muncul atau menghilang. Sepanjang perjalanan juga aku di temani oleh stray cat yang sudah jinak dan sebagian besar memiliki tanda di telinganya yang berarti bahwa kucing itu sudah steril. Tidak perlu khawatir menjadi kucing atau anjing tak berpemilik disini, kota ini sangat ramah untuk mereka. Rata-rata, setiap toko ataupun rumah menyediakan makanan dan air minum untuk mereka sehingga mereka tidak khawatir kelaparan. Dan ketika mereka masuk kedalam warung/restoran, mereka akan di keluarkan baik-baik. Di gendong, lalu diberi makan.

Galata Tower berada di tengah permukiman padat
Tiket masuk


Setelah melewati jalanan menanjak dan beberapa kali berbelok, dari tempatku berdiri, Galata Tower berdiri dengan angkuhnya. Sebuha menara baru dari abad pertengahan ini masih sangat baik kondisinya. Tanpa pikir panjang, aku langsung membeli tiket masuk seharga 30 lira atau sekitar 60 ribu rupiah. Cukup terjangkau menurutku. Loket pembelian tiket terletak di luar Galata Tower. Lalu, aku langsung menuju pintu masuk dan untuk masuk ke dalam, wajib menunjukan dan scan HES Code yang sudah ku buat saat masih di Jerman. Galata Tower memiliki 8 lantai (+1 lantai dasar) dan untuk sampai ke puncaknya, pengunjung tidak perlu naik tangga karena sudah ada lift yang di sediakan. Selama masa pandemi, lift hanya bisa di masukin satu orang atau satu rombongan. Jadi tidak boleh banyak orang di dalam satu lift. Pengunjung yang masuk pun dibatasi. Aku menyarankan jika ingin ke sini sebaiknya di hari kerja untuk menghindari penumpukan pengunjung.

Loket pembelian tiket
Foto di tempat transit


Saat masuk ke liftnya, aku sudah dibuat terpesona oleh dinding lift yang memutar video Istanbul jaman dulu. Aku bahagia, haru dan tidak menyangka bahwa aku bisa menginjakan kakiku di Istanbul. Setiap lantai bisa di kunjungi dan berbeda-beda. Di lantai 1 adalah Penjualan souvenir, lantai 2 Area Simulasi, lantai 3, 4 dan 5 adalah tempat pameran foto, dan barang-barang peninggalan, lantai 6 tempat transit, lantai 7 ada miniatur/maket Istanbul dan lantai paling atas yaitu teras, tempat tertinggi dan tempat dimana pengunjung bisa melihat kota Istanbul secara keseluruhan.

Tampilan di dalam lift
Isi Galata Tower


Mulutku tidak bisa berhenti berucap syukur ketika tiba di lantai 8. Lantai 8 adalah tempat pertama yang aku kunjungi sebelum turun dan menikmati lantai-lantai di bawahnya. Kota Istanbul terpampang nyata di depan mataku. Sangat indah. Dari atas sini, aku bisa melihat banyaknya masjid yang ada di kota ini. Masjid-masjid besar dan indah bertebaran di setiap sudut-sudut kota. Bangunannya megah dengan kubah-kubah besar dan lebih dari satu, khas negara Turki. Aku bisa melihat keindahan Masjid Hagia Sopia, kegagahan Blue Mosque dan Sulümaniye serta masjid-masjid lain yang juga sama indahnya. Setelah merasa cukul melihat kota Istanbul dan foto-foto, aku turun dan lanjut menikmati isi Galata Tower.

Masjid Hagia Sopia
Blue Mosque


Untuk menuju ke lantai di bawah, pengunjung di arahkan menggunakan tangga. Tangga yang melingkar, penghubung antar lantai cukup kecil. Hanya bisa di gunakan 1 orang atau ketika berpas-pasan orang dari bawah, salah satunya hanya agak mepet ke tembok. Tangganya juga cukup rendah sehingga untuk orang yang tingginya di atas 170 cm harus menunduk jika tidak ingin kepentok.

Tangga untuk turun


Di lantai 3, 4 dan 5 berisi aneka peninggalan sejarah serta foto-foto Mustafa Kemal Atatürk dan Sekolah Militer jaman dulu. Barang pecah belah seperti perabotan di letakkan didalam lemari kaca yang berada di sekeliling ruangan. Lalu rantai yang membentang di Golden Horn juga ada di ruangan ini. Rantai ini digunakan untuk mencegah kapal-kapal yang tidak di inginkan untuk bisa masuk ke area selat dan menyerang kota. Rantai ini juga yang menjadi penghalang kapal-kapal Sultan Al Fatih saat berusaha menembus pertahanan Konstantinopel. Bagian kecil rantai yang ada di Museum ini hanya sepanjang 10,72 meter dengan berat 425kg.

Perabotan
Rantai
Area Simulasi


Dan tibalah aku di lantai 2, tempat simulasi. Simulasi yang di sediakan yaitu simulasi terbang dengan pesawat pertama yang masih bertenaga manusia. Terdapat layar besar yang berada memenuhi salah satu dinding dan stiker di lantai, tempat pengunjung berdiri jika ingin mencoba simulasinya. Saat aku mencoba simulasinya, ternyata tidak mudah. Baru saja pesawatku terbang, eh sudah jatuh dengan mirisnya. Hahahaha. Beres main simulasi, aku langsung lanjut ke lantai terakhir tempat penjualan souvenir. Souvenir yang dijual sangat beragam mulai dari miniatur Galata Tower, gantungan kunci, kaos, totebag, pajangan, tempelan kulkas, dll. Tapi aku tidak membeli apapun disini karena sudah pasti lebih mahal dibandingkan jika beli di luar.

Souvenir
Tempelan kulkas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s